Bersama Dalam Sendiri (Cerpen; Bagian 3)

Sumber: towet.files.wordpress.com


Wajah Cakra yang pertama dilihatnya, selepas ia keluar dari tempat berdiamnya selama sepuluh tahun itu. Cakra menyambutnya dengan sebuah senyuman yang teramat manis.
“Selamat atas kebebasanmu dari hukuman atas perbuatan yang aku percaya kamu tak memulainya Dee.”
“Iya kak, makasih. Hari itu dunia seakan sangat membenciku, namun akhirnya aku sadar di situlah aku merasakan bahwa tiada kesabaran yang diperoleh tanpa suatu guncangan.” jawab Dee begitu mantap.
“Sungguh, kau gadis yang kuat Dee. Terpaan demi terpaan mampu kau hadapi, bahkan di saat kau sendirian.” ucap Cakra dalam hatinya.
“Sekarang kamu tinggal di rumahku dulu aja ya, barang-barangmu ada di sana.”
“Oh oke makasih kak, aku juga ga tau harus ke mana.” ucap Dee tak berdaya.
“Lho! Kamu kok ngomong gitu? Kamu masih punya keluarga Dee di rumah, iya kan?”
“Mereka… mereka sudah mengusirku sejak pertama aku memberi kabar tentang musibah itu. Respon mereka justru negatif dan yakin akan kepercayaan mereka bahwa aku pembawa sial untuk mereka.”
“Dee maaf aku ga bermaksud seperti itu.”
“Iya kak, aku sekarang cuma punya simbok dan bapak yang pasti menerimaku dan percaya sepenuhnya padaku, serta  juga  Allah yang tak pernah pergi.”
Rumah Cakra agak jauh dari tempat mereka berdiri namun karena Cakra membawa motor jadi tidak perlu repot repot jalan kaki seperti yang biasa dilakukannya sehabis kerja. Gedung hijau yang pernah memberinya ruang untuk mengerti dunia perkuliahan kini hanya tinggal kenangan. Gedung hijau itu terlewati begitu saja dalam perjalanan menuju rumah Cakra, memang hanya sekejap namun membawa sebuah kecewa yang terlalu panjang.
“Simbok, maaf  Dee gagal jadi sarjana”Batin Dee getir.
----҉----
Mentari terlihat trsenyum riang, hangatnya menelusup mesra ke kulit manis Dee. Seceria dan sehangat perasaan Dee karena hari ini Dee berencana pergi ke rumah simbok dan bapaknya yang lama tak ia sambangi. Ia tak sendirian, ia pergi kesana bersama Cakra. Dee berharap dari mereka berdualah ia dapat mendapatkan kebahagiaan yang pernah ia rasakan dulu. Jalan masuk pedesaan tempat bapak dan simboknya tinggal terjal dan bebatuan hingga membuat mobil yang ia naiki berjalan pelan. Suasana seperti inilah yang begitu dirindukan Dee, suasana sejuk perdesaan, hijaunya sawah yang membentang, pepohonan yang teduh seakan menahan matanya untuk tetap tinggal di rantingnya menikmati segar warnanya. Pemandangan sepanjang jalan yang sejuk berakhir ketika mobil Cakra berbelok menuju sebuah rumah yang terlihat sudah tua.
“Kamu yakin Dee ini rumahnya?”Cakra memastikan pandangannya.
“Sepertinya memang benar kak, aku masih ingat betul jalan kesini tapi……”perkataan Dee terpotong karena mendengar seseorang memanggilnya.
“Dee! Kamukah itu?”
“Iya saya Dee. Maaf, ibu siapa ya?”
“Saya tetangga sebelah Dee. Kamu pasti sudah lupa ya?”
“Iya maaf sudah lama sekali saya tidak ke sini, bu. Orang-orang sudah banyak berubah di sini. Bu, bapak sama simbok kemana ya? Kok rumahnya sepi dan banyak rumput liar gitu ya?”
“Mereka…… sudah pergi Dee sekitar 3 tahun yang lalu. Makanya rumput-rumput itu sudah tinggi.” tutur tetangganya sambil berurai air mata.
“Bagaimana bisa, bu? Mengapa tidak ada yang memberitahu Dee?”
Ucapan Dee terputus, hatinya tak kuat menerima semua ini. Orang yang ia punya telah pergi, mereka yang mengasihinya melebihi orang tuanya sendiri. Sebenarnya ia masih punya keluarga, namun mereka acuh akan keberadaan Dee karena kejadian yang menyebabkan dirinya berada di penjara. Keluarganya tak mau lagi tinggal bersamanya. Selama sepuluh tahun tak sedetikpun keluarganya menjenguknya ataupun meneleponnya untuk menanyakan kabarnya.
“Dee, kamu yang kuat. Mereka pasti sudah tenang di sana. Ayo kita pulang!  Tak baik menangis di pusara seperti ini.”
“Aku harus pulang ke mana kak? Aku tidak punya siapa-siapa lagi.”
Suara lembut Cakra membuat hatinya bergetar. Pria yang selalu ada untuknya bagaimanapun keadaannya. Meskipun begitu, Dee merasa tak punya hak untuk berkata Cakra adalah orang satu-satunya yang ia miliki. Cakra hanya sekedar teman di hidupnya, meskipun berada di dekatnya mampu menyingkirkan risau yang tercipta. Berada di dekatnya juga mampu membuat hatinya berdebar, entah perasaan macam apa yang ia rasakan.
“Kan aku sudah bilang tinggalah di rumahku dulu.”
Dee hanya mampu tersenyum sambil air mata masih mengalir. Tatapan matanya seakan berkata “Terimakasih, kak.”
Dee dengan sekuat hati membujuk langkahnya untuk kembali ke rumah Cakra. Langkahnya berat untuk pergi dari pusara bapak dan ibunya, namun Cakra selalu menguatkan hatinya untuk tetap tersenyum. Perjalanannya menuju rumah Cakra kembali terlewati dengan diam. Dee tak mampu berkata-kata walaupun hanya sekedar mengucap satu kata pun. Hatinya bercerita sendu dan tak mau membaginya dengan kata-kata. Matanya memandang kosong ke arah jendela. Cakra menatapnya berkali-kali seperti ingin memberitahu sesuatu, namun mata Dee tak pernah berpaling pada kaca jendelanya. Akhirnya Cakra mengurungkan niatnya untuk berkata, karena takut akan membuat Dee semakin terluka.
“Assalamu’alaikum... ma, aku pulang.”
Wanita berparas cantik sambil membetulkan letak kerudungnya buru-buru mencium tangan Cakra. Tatapannya kaget saat matanya bertemu dengan Dee.
“Ini Dee ya? Halo, saya istrinya Cakra. Cakra sering menceritakan kamu. Mari masuk hari sudah gelap, di luar dingin juga.”
Dee yang dimaksud hanya terdiam dan menatap Cakra seakan tak percaya,namun anggukan Cakra mengiyakan perkataan wanita tadi datang bagai sambaran petir. Lagi-lagi, hari ini begitu memilukan bagi Dee, otaknya tak mampu menerima begitu saja kenyataan hari ini. Dee limbung begitu saja, tak kuat ia menapakkan kakinya untuk tetap tegar berdiri setegar hatinya dulu. Kini ketegaran hati Dee perlahan-lahan mulai berkurang betapa tak bisa ia kehilangan seseorang yang sudah menguatkannya. Matanya terbuka perlahan, dilihatnya sekeliling ruangan, ruangan putih bertabur bebunga ungu di setiap sudut. Dee teringat sepertinya tadi ia pingsan di rumah depan. Ditengoknya hari hampir pagi, Dee segera menuliskan secarik pesan untuk Cakra, dan berniat pergi ke desa tempat bapak dan ibunya disemayamkan.
----҉----
“Assalamu’alaikum kak Cakra……
Apabila kak Cakra membaca surat ini, mungkin Dee sudah pergi jauh. Tolong biarkan Dee sendirian. Bukannya Dee membenci kak Cakra, namun Dee hanya tak sanggup menerima ini semua. Ini mengenai sebuah hati yang sudah terlanjur berpaut pada namamu. Ini tentang sebuah hati yang selalu bertumbuh bunga di setiap waktu ketika bersamamu. Bagaimanapun, Dee merasakannya saat di dekatmu istrimu lebih beruntung bisa merasakannya setiap detik. Terimakasih telah tulus selalu membantu dalam kesusahan Dee. Terimakasih juga telah menyemangati Dee saat Dee terluka. Maaf jika hatiku lancang, karena telah merasakannya. Tak apa biar Dee simpan semua ini sampai suatu hari nanti datang seseorang yang merasakan hal yang sama padaku ya seperti ketika aku merasakannya saat bersamamu.”
Cakra terduduk di sudut pintu, air matanya mengalir bermuara pada kenangan saat bersama Dee. Andai  orang tuanya tak melakukan perjodohan ini, tentu saat ini Dee lah yang akan merasakan mekarnya bebungaan di hatinya saat berada di dekat Cakra. Hatinya teriris mengingat hidupnya kini sendirian bahkan tanpa seseorang yang menghiburnya di saat sendu.
----҉----
Dee menaiki bus demi bus dengan uang pemberian Cakra yang terdapat di tasnya, matanya merah karena menangis sepanjang perjalanan. Sangat berat melepas seseorang yang diharapkan akan melengkapi kekosongannya.
“Ya Rabb, dalam keadaan seperti ini aku masih menguatkan tekadku bahwa masih ada Engkau di hidupku. Mohon bimbinglah hamba untuk mengarungi perjalanan ini tanpa seorang hamba juga yang Kau kirim untuk memancing senyumku. Bagiku cukup Engkau meridhoi hidupku dan senyum pasti dapat terlengkapi nanti di alam yang kekal di mana orang-orang yang ku sayang berada.” tekad Dee dalam hati, sekaligus menjadi penguat dalam hidup Dee.

Dee akan merawat pusara dan rumah bapak simboknya sambil bekerja sebisanya di daerah sekitar desa itu. Dee yakin bila ia dekat dengan Rabb-nya, hidup akan terasa indah dan hati akan lebih tabah meresapi tiap kesendirian yang tak pernah Dee percaya keberadaannya. Karena dalam hidupnya, Dee selalu beranggapan bahwa dalam sendiri yang sering disebut oleh orang-orang, Dee selalu merasa bersama-sama dengan mahluk Allah lainnya  yang tak mereka anggap kehadirannya.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bersama Dalam Sendiri (Cerpen; Bagian 3)"

Post a Comment