Seluk-beluk Mengenai Manna

       Beberapa mingu setelah Bangsa Israel di bawah pimpinan Nabi Musa as lolos dari Mesir, tibalah mereka di Gurun Sinai. Karena kelaparan, mereka mulai menggerutu, dan Allah pun mengirimkan dua macam makanan kepada mereka.  Petang hari, datanglah sekelompok burung puyuh yang menjadi santapan malam mereka. Pada pagi hari ketika lapisan kabut mulai menipis tampaklah hamparan putih di permukaan tanah berupa lapisan biji-biji kecil dan halus. Saat bangsa Israel melihatnya, mereka bertanya satu sama lain, “Benda apakah itu?” –dalam bahasa Yahudi kuno dlafalkan “man-hu”. Kata ini kemudian menjadi cikal bakal nama makanan baru itu, yaitu manna. Dalam Perjanjian Lama, manna dideskripsikan sebagai semacam biji Coliander (tanaman semak yang dimanfaatkan sebagai bumbu atau bahan obat; berwarna putih dan memiliki rasa mirip roti kering yang dilapisi madu).
       Kata manna dsebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an; semuanya berkaitan dengan kisah pengembaraan Bangsa Israel, yaitu pada al-Baqarah: 57, al-A’raf: 160, dan Thaha: 80. Kata manna dalam tiga ayat tersebut selalu diikuti oleh kata Salwa—sejenis burung putuh. Keduanya disebutkan sebagai berkah dari Allah kepada Bangsa Israel sepanjang 40 tahun pengembaraannya di Gurun Sinai. Istilah dari kedua makanan ini juga dapat ditemui dalam banyak pustaka kuno, yang menyebutnya sebagai pasangan diet yang baik. Manna dipercaya sebagai makanan surgawi yang Allah turunkan kepada Bangsa Israel saat itu. Beberapa ayat dalam Perjanjian Lama mendesripsikan makanan ini sebagai “makanan yang jatuh pada malam hari dalam bentuk butiran seperti salju berwarna putih yang menutupi permukaan tanah”. Rasanya diterangkan mirip “tepung yang diberi madu” atau “roti yang dilapisi minyak”.
        Dari pengamatan banyak pihak, mulai muncul dugaan mengenai hakikat makanan yang disebut manna. Dugaan pertama menyatakan bahwa manna adalah getah beku tumbuhan yang awalnya meleleh keluar dari lubang yang dibuat serangga penghisap cairan tumbuhan, atau berupa cairan manis yang keluar bersamaan dengan proses ekskresi alias kotoran serangga pemakan cairan atau getah tumbuhan tadi. Kekurangsesuaian deskripsi ini dengan apa yang ada dalam Perjanjian Lama—di sana ada kalimat yang berarti “tidak perlu dihaluskan dengan ditumbuk untuk dijadikan tepung sebagi bahan pembuat roti”—membuat sebagian pengamat mulai beralih ke dugaan berikutnya, yaitu lumut kerak. Getah beku tumbuhan maupun lumut kerak memang sah-sah saja dijadikan kandidat makna dari manna, mengingat keduanya masih bisa ditemukan hingga saat ini dan sama-sama dapat dimakan. Kendatipun, dua dugaan ini sama-sama menyisakan satu tanda tanya besar yang harus dijawab: Bila manna adalah getah beku tumbuhan atau lumut kerak, bagaimana mungkin manna dikonsumsi oleh Bani Israel yang jumlahnya sangat banyak dalam kurun waktu 40 tahun?
Di samping itu, bila manna berasal dari getah pohon yang mengering, atau produk dari serangga kecil penghisap cairan pohon, rasanya sulit membayangkan bagaimana manna datang seperti “salju yang turun”. 
Apabila diasumsikan bahwa jumlah pohon penghasil manna saat itu sangat banyak, maka masih disangsikan bagaimana pohon-pohon itu dapat menghasilkan manna dalam jumlah banyak setiap hari untuk dikonsumsi Bani Israel, terlebih lagi penelitian dewasa ini menemukan bahwa produksi getah oleh tumbuhan penghasilnya terjadi pada musim tertentu saja. Itu jelas tidak sesuai dengan apa yang tercatat dalam Perjanjian Lama, bahwa ketersediaan manna terjamin sepanjang tahun. Jika demikian, jelas ada campur tangan Allah dalam hal ini yang membuat hal tersebut dapat terjadi.
       Berikutnya, banyak peneliti mengidentifikasi manna yang disebutkan dalam Perjanjian Lama sebagai semacam cairan manis yang keluar bersama kotoran serangga dari kelompok kutu daun (aphid) yang menusuk dan menghisap cairan dari pohon tamarix dan beberapa jenis lainnya. Bahan ini dikenal dengan nama mann as-sama’. Gambar di bawah ini memperlihatkan aktivitas pada pohon Tamarix nilotica (Tamaricaceae).
Semut yang sedang memanen cairan manis yang dikeluarkan kutu daun.
(sumber: https://richsoil.com)
Pohon ini berupa semak, berdaun ramping, dan hidup menyebar dari kawasan Afrika Utara, Mediterania Timur, Sinai, hingga Jazirah Arab. Jenis tumbuhan lain penghasil mann as-sama’ di kawasan Sinai di antaranya Haloxylon salicornicum (hamadda atau rimth dalam Bahasa Badui), Anabasis setifera, beberapa jenis Acacia, dan Alhagi graecorum. Di Kurdistan dikenal satu lagi jenis pohon yang juga dapat menghasilkan manna, yaitu Quercus brantii. Di Irak, beberapa jenis tumbuhan Cupressus juga diketahui dapat menghasilkan manna.
Alhagi graecorum
sumber: floralegacy.s3.amazonaws.com
Anabsis satifera
sumber: floralegacy.s3.amazonaws.com
Tamarix nilotica
sumber: www.balandin.net
Haloxylon salicornicum
sumber: 
farm7.static.flickr.com
Quercus brantii
sumber: 
static.panoramio.com
        Seperti disebutkan sebelumnya, tampaknya manna dapat saja dihasilkan oleh organisme lain sepanjang memenuhi dua syarat, yaitu memiliki rasa manis dan tidak sebagai hasil tanaman (bukan buah atau "cadangan makanan" dari pohon tersebut). Dari pengamatan dewasa ini, diketahui ada berbagai sumber produksi manna. Sebagian besar manna adalah berupa getah tumbuhan yang keluar dari lubang bekas tusukan serangga yang menghisap cairan tumbuhan itu, atau berupa kotoran serangga penghisap berbentuk cairan manis. Ada juga manna yang berasal dari sumber lain, meski sangat jarang, seperti manna Trehala yang berupa kepompong kumbang Larinus maculates yang hidup di kawasan Turki; atau manna yang berasal dari lumut kerak (dikenal dari jenis Lecanora esculenta atau Spharotallia esculenta) yang kering dan tertiup angin. Butiran halus lumut kerak ini akan membentuk awan yang memiliki rasa manis. Pada musim-musim tertentu, awan itu dapat tertiup angin dari Yunani ke kawasan padang rumput di Asia Tengah. 
        Kemungkinan untuk memperoleh manna dari lumut kerak didukung oleh penelitian ahli kimia bahan alam dari Belgia, Dr. Errera (1893). Lumut kerak yang dimaksud adalah lumut kerak yang masuk kelompok unattached lichens, yang tidak menempel atau mudah lepas dari tempat menempelnya. Ia menduga bahwa lumut kerak ini dari jenis Aspicilia esculenta yang mudah terbawa badai sehingga seolah-olah diturunkan (anzalnaa: diturunkan) dari langit. Lumut kerak ini memiliki kandungan karbohidrat dan gizi yang tinggi serta antibiotik sehingga patut disebut sebagai makanan yang baik (thayyib). Zat antibiotik yang dihasilkan lumut kerak jenis ini di antaranya asam usnat.
        Manna dari getah pohon terbentuk dengan baik pada kawasan beriklim kering, seperti Timur Tengah. Di sini, getah akan keluar dari torehan serangga dalam bentuk cairan pada malam hari, dan mengering pada pagi hari. Hipotesis pertama mengemukakan bahwa manna muncul secara alami dari getah pohon Tamarix. Kemudian ditemukan juga secara alami  di banyak jenis tumbuhan lain. Ada beberapa proses domestikasi yang manusia lakukan guna memperoleh produk yang sama, misalnya di kawasan Sicilia dan Calibria. Penduduk setempat memperoleh manna dengan mengiris batang pohon Fraxinus omus dan menggunakannya sebagai bahan pembuat obat. Hingga saat ini  manna masih digunakan untuk berbagai maksud. Bahkan beberapa suku di kawasan Sinai masih menggantungkan diri terhadap pemanis alami ini. Manna juga umum digunakan sebagai bumbu makanan. Ada dua macam manna dari Iran yang terkenal, yaitu manna hedysarum dan manna shir-khest.
Manna shirt-khesht (kiri) dan manna hedysarum (kanan)
sumber: www.nytimes.com
Keduanya dikenal di Amerika sebagai campuran beberapa jenis makanan. Kedua manna ini mempunyai bentuk fisik yang mirip, yaitu getah pohon bercampur bermacam kotoran seperti ranting, potongan daun, dan banyak lagi. Manna digunakan untuk mendapat rasa manis dan asin yang seimbang, dengan tetap mempertahankan bentuk renyahnya. Manna hedysarum berasal dari pohon Hedysarum alhagi (dikenal juga dengan nama Alhagi maurorum) dengan rasa yang mirip perpaduan sirup maple, gula merah, madu, dan kacang. Manna shir-khesht yang berasal dari tumbuhan kelompok mawar, Cotoneaster nummilaria, memiliki tingkat kompleksitas lebih tinggi. Manna ini memiliki bentuk menyerupai potongan karang, dengan warna yang cenderung lebih putih ketimbang manna hedysarum. Manna shir-khesht juga memiliki rasa alkohol yang lebih kuat dan memberi efek dingin di mulut, serupa rasa mentol. Selain itu, ada sedikit rasa madu dan kulit jeruk di dalamnya.



Dikutip dari buku dengan 
Judul: Tumbuhan Dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sains
Susunan: Kemenag RI dan LIPI

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Seluk-beluk Mengenai Manna"

Post a Comment