Riset Resepsi Qur'an: Gaung Global (W.D. MUHAMMAD; AL-QUR’AN SEBAGAI PANDUAN BAGI PERSAMAAN)

RISET RESEPSI QUR’AN : GAUNG GLOBAL (W.D. MUHAMMAD ; AL-QUR’AN SEBAGAI PANDUAN BAGI PERSAMAAN)



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
      Kitab suci Al-Qur’an memerintahkan kepada kita untuk melihat warna. Bukan hanya itu, Al-Qur’an mengatakan bahwa di langit dan di bumi, dan dalam kejadian-kejadian antara langit dan bumi, serta apa yang ada dalam dirimu, anda akan mendapati tanda-tanda dari Tuhan. Tuhan mengajarkan kita melalui ciptaan-Nya, Dia merancang ciptaanNya untuk menyampaikan hikmah kepada pikiran manusia yang berpikir.
      Konstitusi Amerika dipengaruhi oleh Ajaran-ajaran Al-Qur’an. Bahkan konsep bisnis kapitalis dipengaruhi oleh ajaran Al-Qur’an. Gagasan tentang martabat manusia yang dinyatakan dalam konstitusi lebih sesuai dengan konsep manusia dalam Alkitab. Banyak orang bertanya-tanya mengapa Imam Besar (W.D. Muhammad) kini ingin menyelamatkan Amerika. Karena W.D. Muhammad melihat dua kehidupan di Amerika, sumber hidup kebenaran dan sumber hidup kebohongan, maka dengan menyelamatkan, akan memiliki Amerika yang Indah.

B. Rumusan Masalah
    1. Bagaimana Perjalanan Singkat W.D. Muhammad?
    2. Bagaimana Riset Resepsi Qur’an W.D. Muhammad: Al-Qur’an Sebagai Panduan Bagi Persamaan Ras?




BAB II
PEMBAHASAN


A. Perjalanan Singkat W.D. Muhammad
      Menjadi kulit hitam dan Muslim di Amerika Serikat selalu merupakan tantangan. Dan merupakan tantangan khusus bagi Imam W.D. Muhammad, juru bicara terkemuka bagi lebih dua juta Muslim Amerika Utara. Sejak 1932, ayahnya, Elijah Muhammad memimpin Nation of Islam. Selama empat puluh tahun selanjutnya , Nation of Islam dikenal bukan hanya karena organisasi itu menganut Islam, tetapi juga karena separatisme rasialnya. W.D. Muhammad mengubah sikap itu. Pada 1976 dia menjadi Komunitas Dunia Islam di Barat, kemudian menjadi Perhimpunan Muslim Amerika, dan yang terbaru Peduli Masjid. Dalam tiap fasenya W.D. Muhammad membela Islam sebagai agama asli Amerika, dan dia secara konsisten menentang rasisme dalam semua bentuknya, khususnya dikalangan Muslim.
      Ketika W.D. Muhammad menggantikan ayahnya, kekuasaannya ditolak oleh saingan-saingannya, terutama Louis Farrakhan. Pada 1978 Farrakhan menghidupkan kembali Nation of Islam dengan pesan separatis rasial yang sama seperti pada masa Elijah Muhammad. Diam-diam W.D. Muhammad mengambil jarak dari ayahnya maupun Farrakhan. Untuk membedakan Islam yang benar dari versi Islam yang palsu, dia sering menyebut Islam sebagai al-Islam, yakni, Islam yang sesungguhnya, bukan penyimpangannya dalam bentuk lama dan baru Nation of Islam.
      Dalam pidato tahun 1978 berjudul “ Amerika : Si Cantik dan Si Jahanam”, dia menunjukkan betapa mendalamnya pandangan dia tentang Islam didasarkan pada pembacaan yang unik atas Al-Qur’an. Imam W.D. Muhammad menolak rasisme. Sebagai gantinya, dia menawarkan harapan bahwa contoh-contoh dalam Al-Qur’an mengilhami pemikiran orang-orang Kaukasia maupun Afrika Amerika, non-Muslim maupun Muslim, untuk menjadikan Amerika sebagai Si Cantik dan bukan Si Jahanam.

B. W.D. Muhammad : Al-Qur’an Sebagai Panduan Bagi Persamaan Ras
      Allah mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa orang yang baik tidak dikenali dari warna kulit atau label-label agama mereka. Allah berfrman, dalam Al-Qur’an bahwa kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajah ke Timur atau Barat. Kebajikan terletak dalam takwa kepada Allah, patuh krepada Tuhan. Kebajikan terletak dalam melaksanakan keinginan-keinginan Tuhan. Kebajikan terletak dalam iman kepada Allah, kitab-kitab suci-Nya, Nabi-nabiNya, malaikat-malaikatNya, janji-janjiNya kepada orang beriman. Kebajikan adalah dalam perlakuan yang baik dan dermawan kepada keluarga dan kerabat dekat. Dan juga kepada para janda, anak-anak yatim, dan orang-orang yang sedang berpergian dan tidak punya tempat untuk menginap (musafir). Semua itu bersumber dari definisi kebajikan dalam Al-Qur’an.
      Tuhan juga berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia telah menjadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling kenal dan tidak saling merendahkan. Al-Qur’an dengan tegas mengatakan kepada kita bahwa keunggulan, kebajikan, atau keshalehan tidak dipandang dari segi warna kulit atau lebel-label agama. Ini adalah isi kitab yang dibuat Tuhan. Ini harus menjadi hati nurani kaum Muslim. Akan tetapi, kadang-kadang kaum Muslim tidak menuruti hati nurani mereka.
      Di bagian lain dia sangat spesifik tentang apa makna Al-Qur’an bagi umat Islam. Dia menawarkan penafsiran baru atas Surat Al-Fatihah. Meskipun ayat pembuka diterjemahkan secara berbeda-beda sebagai:
Segala puji bagi Allah, Tuhan semua ciptaan

Atau

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Atau

Segala puji bagi Allah, Penguasa dunia,


      Imam W.D. Muhammad merenungkan makna yang dalam dari kata “dunia” , Dia penasaran mengapa akar kata “Dunia” dalam bahasa arab juga sama dengan akar kata “pengetahuan” Dia memilih menggabungkan keduanya, sehingga menghasilkan terjemahan unik atas perintah awal Surat Al-Fatihah: Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh sistem pengetahuan. “Dunia” bukan lagi alam angkasa luar atau alam kehidupan setelah mati. Sebaliknya “dunia’ menjadi “sistem pengetahuan”.
      Penekanannya bukan hanya pada pengetahuan, tetapi sistem pengetahuan, dan penekanan diberikan pada semua sistem pengetahuan : tidak peduli dari mana sistem itu atau siapa yang mengklaimnya atau siapa yang menggunakannya, semua berasal dari Tuhan. Kearifan Agung, baik dari para penulis kaukasia yang menyusun konstitusi AS atau dari para ilmuwan Arab era Kekhalifahan, bersumber dari Tuhan.
      Adapun Imam W.D. Muhammad memperingatkan Muslim Afrika Amerika untuk tidak menolak segala sesuatu tentang kulit putih atau arab hanya karena yang disebut terakhir itu telah menyakiti orang-orang Afrika Amerika. Para pendengarnya dapat, dan harus, meraih pengetahuan yang telah dihasilkan oleh orang kulit putih dan orang arab. Mengapa? Karena pada akhirnya pengetahuan itu dan aplikasikasinya milik Tuhan: pengetahuan dan aplikasinya hanyalah alat untuk mencerahkan, bukan membeda-bedakan hamba-hambanya.
      Kewajiban Muslim Afrika Amerika adalah jelas dan luas. Ketika mereka memuji Allah sebagai Tuhan semua sistem pengetahuan, mereka menjadikan pengetahuan sebagai inti nilai Islam. Semua sistem pengetahuan mencakup etiket, atau perilaku pribadi. Juga mencakup sejarah global, dari kelahiran Islam sampai sistem-sistem dunia modern. Juga mencakup Ilmu Pengetahuan. Ilmu agama dan pencarian ilmiah menjadi bagian dari satu paket. Keduanya integral bagi Islam, karena yang esa adalah “Tuhan semua sistem pengetahuan” Maha Tahu dan Maha Kuasa. Sifat Maha Tahu Tuhan terbentang dari Hari Penciptaan sampai Hari Kiamat. Sebagaimana tidak ada sesuatu yang tidak diketahui Tuhan sebelum atom pertama dibentuk, begitu pula wahyu Al-Qur’an mengantisipasi semua pengetahuan yang datang setelah zaman nabi. Itu mencakup pengetahuan ilmu modern. Al-Qur’an adalah kitab ilmu pengetahuan dan juga sebuah kitab tanda. Sir Sayyi Ahmad Khan dan Muhammad iqbal tentu setuju.
      “Tuhan semua sistem pengetahuan” lebih dari sebuah jawaban apologetis atas prastise ilmiah. Dalam praktik, para pengikut Imam W.D. Muhammad menjadikan “Tuhan semua sistem pengetahuan” sebagai alat pedagogis, dari sekolah menengah sampai universitas. Tujuannya mendorong kaum muda Muslim untuk mengakui bahwa Meta-Kitab adalah juga kitab Alam, dan bagian dari sejarah mereka.
      “Ketika jibril berkata kepada Muhammad, “Bacalah”, jelas seorang guru di salah satu sekolah Minggu Peduli masjid “ dia tidak punya buku untuk dibaca, lalu apa yang dia baca? Apa yang diinginkan oleh malaikat untuk dia baca? Membaca ciptaan Allah! Membaca terbitnya matahari, membaca dunia! Jibril tidak berbicara tentang kitab fisik ; dia berbicara tentang makhluk. Ketika kita mulai sekolah di taman kanak-kanak mereka tidak tahu bagaimana membaca, maka kita mulai belajar dengan buku-buku bergambar. Ada budak-budak yang tidak dapat membaca, tetapi mereka dapat membaca bintang utara, menjadikan bintang itu tetap di depan mereka selagi mereka berjalan menuju kebebasan!”. Begitu juga dunia alam dan kehidupan sehari-hari harus dipahami melalui observasi dan dengan empati disepanjang waktu dan di semua tempat. Imam W.D. Muhammad dan Komunitas Muslim Amerika harus menempuh perjalanan panjang. Bahkan ketika mereka membentuk kembali komunitas mereka untuk melangkah melampaui tembok Afrosentrisme, mereka harus mendidik masyarakat yang lebih besar untuk membebaskan diri dari noda rasisme kulit putih. Jangkar mereka dalam proyek ini adalah Sebuah Kitab Tanda, yang melintasi semua rintangan waktu dan tempat, budaya dan ras.[1]



BAB III
KESIMPULAN


      Allah mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa orang yang baik tidak dikenali dari warna kulit atau label-label agama mereka. Allah berfrman, dalam Al-Qur’an bahwa kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajah ke Timur atau Barat. Kebajikan terletak dalam takwa kepada Allah, patuh krepada Tuhan. Adapun Imam W.D. Muhammad memperingatkan Muslim Afrika Amerika untuk tidak menolak segala sesuatu tentang kulit putih atau arab hanya karena yang disebut terakhir itu telah menyakiti orang-orang Afrika Amerika.
      Imam W.D.Muhammad memaknai “Dunia” bukan lagi alam angkasa luar atau alam kehidupan setelah mati. Sebaliknya “dunia’ menjadi “sistem pengetahuan”. Penekanannya bukan hanya pada pengetahuan, tetapi sistem pengetahuan, dan penekanan diberikan pada semua sistem pengetahuan : tidak peduli dari mana sistem itu atau siapa yang mengklaimnya atau siapa yang menggunakannya, semua berasal dari Tuhan.



DAFTAR PUSTAKA

Lawrence , Bruce Ahmad Asnawi, Qoni’ah, Biografi Al-Qur’an, (Jogjakarta : Diglossia Media, 2008)



[1] Bruce Lawrence, penerjemah : Ahmad Asnawi, editor : Qoni’ah, Biografi Al-Qur’an, (Jogjakarta : Diglossia Media, 2008) hlm. 153-161

Anda mungkin menyukai postingan ini