Paradigma Ilmu dan Agama

BAB I
PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah
    Ilmu itu adalah suatu kelebihan pada dirinya dan secara mutlak tanpa diperhubungkan kepada yang yang lain. Karena ilmu itu adalah sifat kesempurnaan bagi Allah SWT. Dengan ilmulah, mulia para Malaikat dan Nabi-nabi. Bahkan kuda yang cerdik adalah lebih baik dari kuda yang bodoh.[1]
    Kedudukan tertinggi bagi seorang manusia ialah kebahagiaan abadi. Dan suatu yang paling utama ialah jalan kepadanya. Dan tidak akan sampai kepadanya selain dengan ilmu dan amal. Dan tidak akan sampai kepada amal, selain dengan mengetahui cara beramal.[2]
    Sebenarnya Paradigma kesatuan ilmu telah ada dalam al-Qur’an. Karena al-Qur’an memuat seluruh cabang ilmu, dan keseluruhan cabang ilmu yang terdapat dalam al-Qur’an terjalin harmonis sehingga tercipta menjadi satu kesatuan. Akan tetapi, Islam diawal kedatangannya belum memfokuskan diri dengan ilmu pengetahuan akan tetapi perluasan wilayah. Ilmu pengetahuan jadi fokus islam terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah (750-1258M). Pada masa-masa ini, sistem berpikir rasional telah berkembang pesat dalam masyarakat intelektual muslim.[3]
    Sekularisasi tidak bisa diterima oleh Islam karena sekularisasi mematikan naluri berilmu manusia. Padahal ajaran Islam sangat memupuk semangat berilmu. Dengan kata lain, Islam menyatukan antara ilmu dan iman. Setelah 500 tahun memimpin peradaban umat manusia, ilmu pengetahuan Barat modern yang tidak lain adalah hasil pengembangan dari orang renaisans abad ke-15 itu mulai digugat. Ilmu pengetahuan Barat modern dipandang bukan perwujudan ilmu yang ideal. Ilmu-ilmu kealaman Barat modern menjadikan alam semakin cepat mengalami krisis multidimensi yang pada akhirnya dapat membahayakan kehidupan manusia juga. Sementara ilmu–ilmu humaniora, seperti filsafat, menghasilkan manusia yang tidak seperti manusia semestinya. Ilmu humaniora Barat modern justru melahirkan krisis kemanusiaan. Fenomena krisis alam dan kemanusiaan mendorong berbagai pihak untuk kembali menyatukan ilmu dan etika. Bagi umat Islam, inilah saatnya menyatukan kembali antara ilmu dan wahyu (agama/ajaran moral) sebagaimana dilakukan para ilmuwan masa lalu seperti Ibn Sina (980-1037M) dan al Farabi (874-950M).
    Ilmu-ilmu yang dikembangkan Barat disusun berdasarkan pengalaman masyarakat Barat yang tidak mengenal wahyu walaupun dalam bentuknya yang paling minim yakni ajaran moral (etika). Oleh karena itu, ilmu-ilmu Barat bercirikan pemisahan tegas antara sains dan wahyu; antara sains dan agama; antara sains dan moral. Sains sekular macam ini sesungguhnya menjadikan manusia berkepribadian terbelah (split personality), yakni manusia yang terpisah antara akal dan jiwanya; antara kepintaran dan kesalehan; antara ilmu dan perilaku; antara badan dan ruh. Padahal, manusia terdiri dari jiwa dan badan. Pemisahan hanya akan menjadikan manusia bukan manusia lagi.
    Beberapa cabang ilmu yang sangat berbahaya dari sistem sekularisme adalah salah satunya: ilmu humaniora barat memunculkan manusia-manusia yang tidak mengenal Tuhannya. Ilmu alam (natural sciences) Barat mendorong manusia untuk mengeksploitasi alam dengan keserakahan yang tanpa batas.
    Islam mencoba mengembalikan bangunan integrasi ilmu yang dikembangkan melalui paradigma kesatuan ilmu atau yang dinamakan wahdat al-ulum (unity of sciences). Paradigma ini menegaskan bahwa semua ilmu pada dasarnya adalah satu kesatuan yang berasal dari dan bermuara pada Allah melalui wahyu-Nya baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, semua ilmu sudah semestinya saling berdialog dan bermuara pada satu tujuan yakni mengantarkan pengkajinya semakin mengenal dan semakin dekat pada Allah Yang Maha Tahu. Dengan kata lain, paradigma unity of sciences akan melahirkan seorang ilmuwan yang ensiklopedis, yang menguasai banyak ilmu, memandang semua cabang ilmu sebagai satu kesatuan holistic, dan mendialogkan semua ilmu itu menjadi senyawa yang kaya.
    Hingga tahun 1970, paradigma ini nyaris dilupakan orang setelah peradaban Islam mengalami tidur yang panjang. Negara-negara muslim jatuh ke tangan para kolonial selama lebih dari 500 tahun. Waktu yang demikian panjang itupun diikuti dengan melemahnya etos ilmiah umat Islam. Riset-riset mendalam jarang dilakukan. Sebagian ilmuwan muslim tetap melakukan riset tetapi tidak lagi melanjutkan paradigma khas umat Islam. Mereka mengekor pada paradigma sekuler. Kesadaran untuk kembali mengusung paradigma khas baru muncul sejak diselenggarakannya Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam tahun 1976 di Mekah yang merupakan puncak keprihatinan para ahli pendidikan Islam sejak 1970-an.
    Pada konferensi itu, bertemu semua pakar kelas dunia untuk memikirkan konsep pembangunan dunia Islam agar bangkit dari keterpurukan. Sebagai keynote speaker waktu itu, adalah Syed M. Naquib al-Attas. Ia mengusulkan bila ingin membangun dunia muslim perlu dimulai dengan memperbaiki konsep pendidikan di dunia muslim. Universitas yang menjalankan konsep pendidikan Islam harus dibangun agar umat semakin tercerahkan Menurut al-Attas, dampak dari system pendidikan sekuler itu adalah munculnya keinginan agar materi dan tujuan pendidikan dimodifikasi agar link and match dengan dunia industri dan tuntutan ekonomi terutama di AS dan UK pada beberapa dekade lalu.
    Pandangan al-Attas tentang konsep universitas Islam selaras dengan pandangam Hamid Hasan Bilgrami dan Sayyid Ali Asyraf. Bilgrami menyatakan bahwa universitas Barat tidak memiliki landasan pendidikan yang sebenarnya, yang bersifat spiritual yang tidak materialistik. Universitas Islam sesungguhnya memilikinya, namun selama ini telah dilupakan. Untuk itu, perlu segera didirikan universitas Islam yang mampu berdiri di atas landasan spiritual Islam.[4]
Universitas-universitas tersebut diharapkan akan menjawab semua perkembangan zaman. Dengan permasalahan inilah perlu adanya integrasi antara Islam sebagai agama yang dianut oleh para pencari ilmu di universitas tersebut dengan ilmu-ilmu yang terus-menerus berkembang mengikuti zamannya. Paradigma kesatuan keilmuan unity of science adalah solusi untuk menghindari adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu sains yang menjadi penyebab kemunduran umat Islam. Unity of Science seperti keterpaduan ilmu agama dan ilmu sains perlu diterapkan melalui kurikulum dalam mata kuliah/mata pelajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam Indonesia.[5]

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian paradigma ilmu dan agama?
2. Apa perbedaan kebenaran ilmu dan kebenaran agama?
3. Apa pengaruh ilmu pada agama?



BAB II
PEMBAHASAN



A. Pengeertian Paradigma Ilmu dan Agama
    Paradigma, menurut Guba (1990, hlm. 17), sebagai serangkaian keyakinan dasar yang membimbing tindakan. Paradigma berurusan dengan prinsip-prinsip pertama, atau prinsip dasar. Paradigma adalah konstruksi manusia, yang menentukan pandangan dunia. Keyakinan-keyakinan ini tidak dapat ditetapkan dari sudut nilai kebenarannya yang tertinggi. Suatu paradigma meliputi tiga elemen: ontologi, epistemologi dan metodologi. Ontologi memunculkan pertanyaan dasar tentang hakekat realitas. Epistemologi mempertanyakan bagaimana cara kita mengetahui dunia dan metodologi memfokuskan diri pada cara kita meraih pengetahuan tentang dunia.17Dalam konteks sains, hakekat worldview juga dapat dikaitkan dengan konsep “paradigma” Thomas S. Khun dengan istilah “perubahan paradigma”(paradigm Shift) menurut Edwin Hung sebenarnya dapat dianggap sebagai revolusi pandangan hidup. Sebab paradigma mengandung konsep nilai, standar-standar, metodologi, yang merupakan worldview dan framework konseptual yang diperlukan sains.[6]
    Cara pandang manusia dalam mensikapi apa yang ada dalam alam semesta bersumber dari beberapa faktor yang mendominasi dalam kehidupannya. Faktor tersebut dapat berasal dari kebudayaan, filsafat, agama, kepercayaan, tata nilai masyarakat atau lainnya. Cara pandang yang berasal dari agama dan kepercayaan akan meliputi bidang-bidang yang menjadi bagian konsep kepercayaan agama itu. Cara pandang sering disebut dengan istilah worldview (pandangan hidup), weltanschauung (Jerman).[7]
    Menurut al-Mauwdudi, yang dimaksud Islami Nazariyat (worldview) adalah pandangan hidup dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kahidupan manusia di dunia. Karena shahadah berarti pernyataan moral yang mendorong manusia untuk dapat menjalankan dalam kehidupannya. Prof. Alparslan menguraikan worldview sebagai asas bagi setiap perilaku, termasuk aktifitasaktifitas ilmiyah dan teknologi. Akhirnya setiap aktivitas manusia dapat ditelusuri dari pandangan hidup yang menaungi kehidupannya. Tiga hal penting yang perlu digaris bawahi dari definisi tersebut yaitu bahwa worldview adalah motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktivitas ilmiah, maka Islam mengandung itu semua. Islam bahkan memiliki pandangan terhadap realitas fisik dan non fisik secara integral. Lain halnya apabila dengan cara pandang yang sekuler dan liberalistik, menyebabkan pemahaman ilmu menjadi bebas nilai yang terpisah dari spiritnya bahwa ilmu untuk kemaslahatan umat manusia.[8]
    Manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna dan yang paling tinggi derajadnya dibandingkan dengan makhluk yang lainnya karena manusia dilengkapi dengan akal yang digunakan untuk berfikir. Dengan kekuatan daya pikir inilah manusia menemukan teori-teori ilmiah dan teknologi. Agama (Islam) bukanlah hal yang menghambat bagi ilmu pengetahuan, namun Islam menguatkan pencapaian ilmu pengetahuan modern saat ini. Al Qur‟an menyuruh berfikir dan mendorong pembelajaran alam secara langsung melalui observasi dan percobaan lewat tafaqqu, tafakkur, dan ta’aqul (merenung, meneliti, menginvestigasi) sebagai jalan untuk memahami dan mengetahui kehidupan dan alam semesta beserta fenomena-fenomenanya. Agama sejatinya akan memberi ketenangan batin karena dijanjikan ada kehidupan setelah mati, sedangkan ilmu dapat memberi kemudahan kehidupannya di dunia.[9]
    Agama dan ilmu pengetahuan tidaklah harus dilihat sebagai hal yang dipertentangkan, tetapi yang perlu dipikirkan bagaimana keduanya dapat bersinergi membantu manusia untuk kehidupan yang lebih baik. Agama dapat pula mendominasi dalam membentuk pola pikir dan cara pandang manusia terhadap kehidupan dan alam sekitarnya. Persepsi-persepsi manusia juga ikut mempengaruhi perkembangan dunia itu sendiri, karena dengan cara demikian juga akan mempengaruhi jalannya sejarah umat manusia. Agama dan Ilmu sama-sama merancang dan mempersiapkan masa depan manusia. Desain agama lebih jauh dan abstrak serta memberikan ketenangan hidup setelah mati, sedang ilmu dan teknologi desainnya lebih pendek dan konkrit untuk menghadapi kehidupan di dunia ini.[10]
    Ilmu memperbincangkan tentang pengetahuan, sedangkan agama mengenai soal kepercayaan, Pengetahuan dan kepercayaan adalah dua sikap yang berbeda dari keinsyafan manusia, pelita ilmu terletak di otak manusia, sedang pelita agama terletak di hati. Meski demikian agama mempunyai wilayahnya sendiri, yang terpisah dari wilayah ilmu, akan tetapi agama adalah datum bagi ilmu. Sebagaimana ilmu yang dipahamkan dapat memperdalam keyakinan agama, demikian juga kepercayaan agama dapat memperkuat keyakinan ilmu dalam menuju cita-citanya, karena ilmu pada hakekatnya untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia yang dilahirkan oleh mereka yang berjiwa besar. [11]
    Sejarah telah menunjukkan bahwa tradisi dalam agama telah memunculkan kajian-kajian ilmu pengetahuan yang mengungkapkan fakta tentang kehidupan dan alam semesta, kelahirannya dan hukum-hukumnya, seperti yang terjadi di Indonesia, Yunani dan Mesir kuno dan sebagainya.[12]
    Indonesia sebagai negara yang dalam catatan sejarah sering dilupakan orang, padahal Indonesia sebagai negara telah pernah menyumbangkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lewat peninggalan monumen candi Prambanan dan Candi Borobudur.Meski kedua bangunan sejarah tersebut dilatari dari keyakinan agama yang berbeda, akan tetapi kedua bangunan candi tersebut menunjukkan hubungan yang saling bersinergi antara sains (ilmu pengetahuan) dan Agama. Bangunan candi tersebut merupakan manifestasi ajaran-ajaran agama yang memperlihatkan bagaimana kehidupan manusia dalam tata konstelasi manusia-alam dan langit, petunjuk dalam sistem pemerintahan serta kedua bangunan candi tersebut sebagai pertanda kemajuan peradaban pada jamannya. Demikian pula yang terjadi pada bangunan Piramida yang dibangun berdasarkan konsep kematian yang diyakini pada saat itu. Agama berperan menciptakan keyakinan dan motivasi yang abadi karena ia merupakan sebuah sistem nilai. Perubahan tata nilai tidak terjadi dengan mudah karena hal tersebut tertanam dalam kepercayaan metafisika.[13]

B. Perbedaan Kebenaran dalam Ilmu dan Kebenaran dalam Agama
    Definisi kebenaran yang secara umum dianggap standar, yaitu kesesuaian antara pikiran dan kenyataan. Kebenaran tidak begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan dan nilai itu sendiri. Maka tidak berlebihan jika pada saatnya setiap subyek yang memiliki pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang amat berbeda satu dengan yang lainnya. Kebenaran, pertama-tama berkaitan dengan kualitas pengetahuan, maksudnya pengetahuan itu berupa pengetahuan biasa atau pengetahuan ilmiah yaitu pengetahuan yang telah menetapkan obyek, metodologi dan kesepakatan di antara para ahli sejenis, kebenarannya bersifat relatif maksudnya selalu terbuka dengan adanya penemuan baru dan selalu mengalami pembaruan. Kebenaran yang kedua, dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan cara apakah seseorang membangun pengetahuannya itu. Apakah ia membangunnya dengan penginderaan atau akal pikiran atau ratio, intuisi, atau dengan keyakinan. Implikasinya adalah melalui alat tertentu akan mengakibatkan karakteristik kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan itu akan memiliki cara terentu untuk membuktikannya, oleh karenanya jika seseorang membangunnya melalui indera maka cara membuktikan kebenarannya dengan melalui indera pula. Orang tidak dapat membuktikan kebenaran yang dibangun dengan cara intuitif dibuktikannya dengan cara inderawi misalnya. Kebenaran pengetahuan yang ketiga, adalah nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Bagaimana relasi hubungan antara subyek dan obyek.[14]
    Beberapa teori kebenaran yang telah dikemukakan lebih mengedepankan akal, budi, rasio dan reason manusia, sedang teori kebenaran dalam Agama yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dari Tuhan dengan Kitab Suci sebagai pegangannya. Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas Segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam, manusia maupun Tuhan. Suatu hal itu dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran. Kebenaran inilah yang menurut kaum sufi sebagai kebenaran mutlak. Yaitu kebenaran yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi. Namun Al Ghazali tetap merasa kesulitan menentukan kriteria kebenaran. Akhirnya kebenaran yang didapatnya adalah kebenaran subyektif atau intersubyektif. Wujud kebenaran ada yang berupa penghayatan lahiriyah, jasmaniyah, indera, ada yang berupa ide-ide yang merupakan pemahaman potensi subyek (mental, rasio, intelektual), sehingga substansi kebenaran adalah di dalam antar aksi kepribadian manusia dengan alam semesta. Tingkat wujud kebenaran ditentukan oleh potensi subyek yang menjangkaunya.[15]

C. Pengaruh Ilmu Pengetahuan dalam Studi Agama
    Pada sekitar abad 19 studi empiris terhadap agama mulai diperkenalkan dalam wilayah studi Comparatif Religions. Studi tersebut memunculkan disiplin-disiplin baru yang lebih bersifat empirik seperti Sosiologi Agama, Antropologi Agama, Sejarah Agama, Psikologi Agama dan Fenomenologi Agama. 45Dengan munculnya berbagai pendekatan dan pemahaman terhadap agama, pemikiran teologis tetap mempunyai asumsi dasar bahwa hanya agama tertentu saja yang dianggap paling benar.Tuntutan yang bersifat eksklusif-partikularistik ini oleh para peneliti dan para pemerhati studi agama disebut sebagai truth claim. Truth claim tidak menjadi bermasalah apabila hanya terbatas pada aspek ontologis-metafisis, tidak melebar ke ranah sosial politik. Apabila sudah masuk ke wilayah politik praktis maka harapan besar terhadap peran agama semakin hilang. Sedangkan dalam studi empirik terhadap keberagamaan memperoleh temuan dan kenyataan yang tidak dapat dielakkan yaitu adanya pluralitas keyakinan dan pedoman hidup manusia.[16]
    Studi Ini menjadikan hubungan antara pendukung teologis murni dan pendukung studi empiris tidak harmonis sampai sekarang. Hal ini berdampak pula dalam menempatkan teologi atau Kalam dalam tradisi Islam di tengah perkembangan ilmu pengetahuan modern saat ini bukanlah persoalan yang mudah sebagaimana yang pernah diungkapkan al-Ghazali pada abad pertengahan dan Fazlur Rahman di era modern saat ini. Amin Abdullah dalam tulisannya menekankan bahwa manusia beragama dituntut untuk mereformulasikan konsep teologi sehingga dapat kondusif untuk menjawab tantangan riil kemanusiaan dan kehidupan kontemporer.[17]



BAB III
PENUTUP



A. Kesimpulan
    Walaupun ilmu pengetahuan dan agama merupakan dua entitas yang berbeda, namun keduanya sama-sama memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan agama, manusia memiliki iman, etika, moral yang beradab. Dengan sains, manusia akan memajukan dunia dengan berbagai penemuan yang gemilang serta memberikan kemudahan fasilitas yang menunjang keberlangsungan hidup.

B. Saran
    Dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangannya, untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan.



DAFTAR PUSTAKA



Fanani, Muhyar. 2015. Buku Ajar Falsafah Kesatuan Ilmu. Semarang: UIN Walisongo
Istinah, Siti Rodhiyah Dwi. Paradigma Ilmu dan Agama dalam Upaya Mencari Kebenaran (Hakiki) dalam Penciptaan Alam Semesta (Tesis). Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
Yakub, Ismail (Penerjemah). Tidak diketahui. Ihya’ ‘Ulumuddin:menghidupkan ilmu-ilmu agama. Medan
Sholeh, Khudori. 2014. Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer. Yogyakarta: Ar Ruzz Media
http://unityofscience.org/paradigma-kesatuan-ilmu-unity-of-science/ diakses pada tanggal 21 November 2016 pukul 17.16 WIB



[1] Imam Al-Gjazzali, Ihya’ Ulumuddin terjemahan Ismail Yakub (Medan), hlm. 73
[2] Ibid, hal. 74
[3] Khudori Sholeh, Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2014), hal.9
[4] Muhyar Fanani, Falsafah Kesatuan Ilmu (Semarang: UIN Walisongo, 2015), hlm. 12
[5] http://unityofscience.org/paradigma-kesatuan-ilmu-unity-of-science/ diakses pada tanggal 21 November 2016 pukul 17.16 WIB
[6] Siti Rodhiyah Dwi Istinah, Paradigma Ilmu dan Agama dalam Upaya Mencari Kebenaran (Hakiki) dalam Penciptaan Alam Semesta (Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta), hlm. 179
[7] Ibid, hlm. 179
[8] Ibid, hlm. 180
[9] Ibid.
[10] Ibid, hlm. 180-181
[11] Ibid, hlm. 181
[12] Ibid.
[13] Ibid, hlm. 181-182
[14] Siti Rodhiyah Dwi Istinah, Paradigma Ilmu dan Agama dalam Upaya Mencari Kebenaran (Hakiki) dalam Penciptaan Alam Semesta (Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta), hlm. 184
[15] Ibid, hlm. 185-186
[16] Ibid, hlm. 186-187
[17] Ibid, hlm. 187

Anda mungkin menyukai postingan ini