Kitab al-Maqashid al-Khasanah (Indeks Hadits) pdf

  1. Pengarang: al-'Allamah asy-Syaikh Muhammad 'Abd ar-Rahman as-Sakhawi
  2. Tempat Terbit: Beirut, Labanon
  3. Jumlah Jilid: 1 Jilid
  4. Isi/sistematika:

·      Muqaddimah (pendahuluan) : pendahuluan, isi kitab, tujuan ditulisnya kitab, biografi penulis (imam as-Sakhawi).
·      Bab pertama : penyususnan lafal matan (hadis populer) berdasarkan huruf hijaiyah (أ-ي).
·      Bab kedua : klasifikasi hadits berdasarkam urutan bab-bab. (kumpulan potongan matan yang telah ditakhrij dan ditashhih pada bab pertama dalam bab-bab yang tersusun secara maudhu’i).
·      Penutup
·      Daftar isi
5. Cara menelusuri hadits:
1)   Melihat awalan redaksi hadis.
2)   Menuju pada hadis berdasarkan informasi yang ada
6.  Kelebihan:
·      Merupakan kitab yang masyhur dikalangan masyarakat, sehingga tidak hanya hadis shahih saja, snamun semua hadis ada dengan kriteria hadis tersebut terkenal dikalangan masyarakat
·      Penyusunan matan sesuai huruf hijaiyah
7.     Kekurangan:
·      Tidak diketahuinya kualitas hadis
·      Jumlah hadis yang sedikit
·      Tidak memakai rumus yang spesifik.
·      Hanya ada hadits di kalangan masyarakat, jadi jika kita cari hadis yg tidak masyhur dalam masyarakat tidak akan ditemui hadis tersebut.

Kitab indeks ini memuat dua kitab hadits, yaitu Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Silakan langsung download.

Kitab ar-Raf'u wa Takmilu fi al-Jarhi wa al-Ta'dili (pdf)


Pengarang: Muhammad Abd al-Hayy al-Laknawi al-Hindi
Pentahqiq : Abd al-Fattah Abu Ghuddah
Penerbit    : Darussalam
Ukuran     : 14 MB

Kitab ini berisi tentang Jarh dan Ta'dil yang cocok bagi mahasiswa jurusan Ilmu Hadits.
Tafsir 'Ilmi (makalah)

Tafsir 'Ilmi (makalah)

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Keragaman corak dalam penafsiran adalah suatu hal yang tidak bisa terhindarkan. Mengingat kitab tafsir adalah karya manusia yang bersifat relatif. Berbagai faktor yang dapat menimbulkan keragaman corak, diantaranya: perbedaan kecenderungan, interest dan motivasi mufasir, perbedaan misi, perbedaan masa dan lingkungan, perbedaan kedalaman dan ragam ilmu yang dikuasai, perbedaan situasi dan kondisi yang dihadapi, dan sebagainya. Semua itu menimbulkan munculnya berbagai macam corak penafsiran. Seperti: corak Tafsīr bil ma’tsūr, tafsīr ar-ra’y, tafsīr fiqh, tafsīr shūfi, tafsīr adabul ijtima’i, tafsīr falsafiy, tafsīr madzhabi, dan tafsīr ‘ilmi.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang menetapkan masalah akidah dan hidayah, hukum syari’at dan akhlak. Bersamaan dengan itu, di dalamnya juga terdapat ayat-ayat yang menunjukkan berbagai kenyataan ilmiah, sehingga memberikan dorongan kepada manusia untuk mempelajarinya, membahas, dan menggalinya. Sejak zaman dahulu umat Islam telah berupaya menciptakan hubungan seerat mungkin antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan. Mereka berijtihad menggali beberapa jenis ilmu pengetahuan dari ayat-ayat al-Qur’an. Kemudian usaha tersebut ternyata semakin berkembang dan banyak memberikan manfaat.(Yuliarto, n.d.)

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pegertian tafsir ilmi?
2.      Bagaimana pandangan para ‘ulama’ terhadap tafsir ‘ilmi?
3.      Apa saja contoh kitab-kitab tafsir ilmi?
4.      Apa saja contoh tafsir ilmi?



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Tafsir Ilmi
Secara etimologi kata tafsir berarti: al aidah wal bayan yang berarti penjelasan, al kasyaf yang berarti pengungkapan, dan kasyful muradi ‘anil lafdzi musykil yang berarti menjabarkan kata samar. Adapun secara terminologi adalah penjelasan terhadap kalamullah atau menjadikan lafadz-lafadz Al-Qur’an dan pemahamannya.(Sya’roni 2012)
Sedangkan kata ilmi dan berbagai turunanya, yang sering digunakan dalam al-Qur’an berarti pengetahuan. Dalam pandangan al-Qur’an, terminologi ‘ilmi tidak terbatas pada istilah-istilah ilmu agama saja.  Tetapi segala macam bentuk ilmu baik berupa ilmu alam, ilmu sosial, humaniora, dan ilmu yang digunakan untuk kemaslahatan umat.
Sehingga makna etimologi dari tafsir ‘ilmi adalah penjelasan atau perincian tentang ayat Al-Qur’an yang terkait dengan ilmu pengetahuan, khususnya ayat tentang alam. Sedangkan tafsir ilmi dalam terminologi J.J.G Jansen  seorang orientalis asal Leiden, tafsir ilmi juga disebut sebagai sejarah alam (natural history) secara sederhana dapat didefinisikan sebagai usaha memahami ayat-ayat al-Qur’an dengan menjadikan penemuan-penemuan sains modern sebagai alat bantunya. Ayat al-Qur’an di sini lebih diorientasikan kepada teks yang secara khusus membicarakan tentang fenomena kealaman atau yang biasa dikenal sebagai ayat kauniyyah. Jadi, yang dimaksud dengan tafsir ilmi adalah suatu ijtihad atau usaha keras seorang mufassir dalam mengungkapkan hubungan ayat-ayat kauniyyah dalam al-Qur’an dengan penemuan-penemuan sains modern, yang bertujuan untuk memperlihatkan kemukjizatan al-Qur’an.(Ichwan 2004)

B.  Pandangan Para Mufassir Terhadap Tafsir ‘Ilmi
Diantara mereka ada yang membenarkan tafsir ini dan ada yang tidak, ada juga kelompok ketiga yaitu kelompok pertengahan yaitu kelompok yang membuat pengecualian dengan syarat tertentu. Kelompok ulama yang mendukung keberadaan tafsir ilmi di antaranya:
1.    Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H), ia menyakini adanya ilmu pengetahuan di dalam al-Quran, dia mengutip pendapat ulama bahwa al-Quran itu mencakup 77.000.200 ilmu di dalamnya. Setiap kata mengandung ilmu yang berlipat empat kali, setiap kata al-Quran itu mengandung makna zahir dan batin (al-Ghazali, 1402H: 289). Dan di dalam kitabnya Jawahir alQuran, dia menguraikan dalam fasal kelima bahwa ilmu pengetahuan banyak terdapat di dalam al-Quran seperti : ilmu kedokteran, ilmu astronomi, ilmu alam, ilmu anatomi tubuh bahkan ilmu sihir berasal dari al-Quran. Banyak contoh lain dari al-Quran yang ia korelasikan dengan ilmu-ilmu lain.
2.    Imam Fakhruddin al-Râzi (w. 606 H): Seorang ulama tafsir yang berusaha menyelaraskan masalah-masalah ilmu dengan al-Quran, Ia menggunakan dalil bumi itu diam, dengan ayat Qs. al-Baqarah: 22 : "alladzî ja'ala lakum ulardha firâsya" (yang telah menciptakan bagimu bumi sebagai hamparan), Dalam uraian ayat ini ia berusaha mendiskusikan pendapat-pendapat astronom lama seperti Ptolemeus dari barat, dan ulama-ulama India, China, Mesir kuno, Babilonia, Romawi dalam menafsirkan ayat QS. Al-Baqarah: 164, (al-Razi, 1411H: 94).
3.    Jalaluddin al-Suyûtî (w. 911 H): Seorang ulama dan penulis buku al-Itqân fî ulûm al-Quran, ia berkeyakinan bahwa al-Quran itu mencakup seluruh ilmu pengetahuan termasuk ilmu tentang ajal Rasulullah saw.. Ia memberi contoh ayat al-Quran surah al-Munâfiqûn: "wa lan yuakhkhir Allâhu nafsan idzâ jâ-a ajaluhâ" (Allah tidak akan menunda kematian satu jiwapun jika ajalnya sudah datang) ayat ini adalah ayat ke 11 surah al-Munafiqûn, yaitu surah yang ke 63, menurutnya ini memberitakan bahwa umur Nabi saw. berjumlah 63 tahun sudah diuraikan jauh sebelum nabi meninggal dunia (Jalaludin, 1407H : 271-282).
4.    Allamah al-Majlisi (w. 1111 H). Seorang ulama Syiah yang mengarang kitab "Bihâr al-Anwâr", di salah satu bagian dari kitabnya ini ia menguraikan tafsir ilmi, dan tidak adanya pertentangan pada kata "al-samâwât al-sab'u" (tujuh langit) dalam al-Quran surah al-Baqarah: 29, dengan ilmu astronomi tentang "al-aflâk al-tis'ah" (sembilan planet). Karena yang dimaksud dengan "aflâk" sembilan menurut bahasa al-Quran disini adalah kursi atau arsy dan bukan langit (Muhammad Baqir, 1358H: 5).
Mereka yang menyetujui tafsir ilmi telah berusaha untuk mengangkat ilmu pengetahuan dari al-Quran, dan tetap berpendapat bahwa dalil-dalil al-Quran itu meliputi seluruh ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan cara perenungan terhadap ayat-ayatnya yang dikorelasikan dengan berbagai ilmu. Atau cara sebaliknya yang mereka lakukan untuk membuktikan bahwa al-Quran itu selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan yaitu dengan menarik teori-teori ilmu pengetahuan yang dikorelasikan dengan ayat-ayat al-Quran.
Namun demikian ada juga di antara ulama yang tidak setuju dengan adanya tafsir ilmi ini, mereka itu diantaranya adalah:
1.    Abu Ishaq al-Syâtibî (w. 790 H) seorang ahli fiqh Andalusia bermadzhab Maliki, beralasan bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya sudah dikenal oleh masyarakat Arab sebelum al-Quran diturunkan, seperti: ilmu astronomi, ilmu meteorologi dan geofisika, ilmu kedokteran, ilmu retorik, ilmu ramal dan perdukunan. Sedangkan agama Islam telah membagi ilmu pengetahuan itu menjadi dua bagian yaitu ilmu yang benar dan ilmu yang sesat, serta Islam sudah menguraikan manfaat dan bahaya dari ilmu-ilmu itu. Hubungan antara ilmu pengetahuan dan al-Quran, al-Syatibi menambahkan bahwa ulamaulama terdahulu (salaf) tidak pernah mengorelasikan ilmu-ilmu pengetahuan dengan al-Quran, dan tujuan diturunkan al-Quran untuk menguraikan hukumhukum dan segala yang berkenaan dengan akhirat (Muhammad Husein, 1409H: 458-488).
Dengan itu al-Syatibi membantah penafsiran orang-orang yang mengakui keberadaan "tafsir ilmi" yang berdalilkan ayat 89 dari surah al-Nahl: "tibyânan likulli syai' " (pengurai dari segala sesuatu) dan ayat 38 dari surah al-An'âm : "mâ farrathnâ fî l-kitâbi min syai' " (tidak ada satupun yang Kami luputkan di dalam kitab) dengan pendapatnya: bahwa kata kullu syai' pada ayat diatas tidak berhubungan dengan ilmu pengetahuan akan tetapi berkaitan dengan taklif (beban syariat) dari Allah dan ibadah, sedangkan maksud kata al-kitab pada ayat 38 surah al-An'âm diatas adalah bukan al-Quran akan tetapi lauh al-mahfûzh (Muhammad Husein, 1409H: 489). Maka menurut dia ayat-ayat diatas yang digunakan untuk memperkuat alasan keberadaan tafsir ilmi tidak tepat.(Yuliarto, n.d.)
2.         Al-Syaikh Mahmûd Syaltût (w. 1964 M) seorang syekh al-Azhar, beranggapan bahwa: Sesungguhnya pandangan tentang tafsir ilmi pada ayatayat al-Quran ini adalah salah besar. Al-Quran diturunkan dan berbicara kepada semua manusia bukan untuk menguatkan teori-teori keilmuan, karena hal yang demikian dapat mengajak pelakunya tenggelam kepada penakwilan al-Quran tanpa dilandasi kebenaran dan menafikan kemukjizatan al-Quran itu sendiri. Selain itu menjadikan al-Quran sibuk memaparkan ilmu pengetahuan yang saat ini boleh jadi benar akan tetapi belum tentu dikemudian hari. Karena ilmu pengetahuan itu selalu berkembang dan tidak tetap.
Di tengah perdebatan keabsahan dan tidak tafsir ilmi membuat para ulama Islam agar lebih selektif melihat jenis-jenis penafsiran yang absah. Di satu sisi al-Quran telah memberikan jawaban tepat terhadap permasalahan yang timbul dari perkembangan ilmu pengetahuan, dan keberadaan tafsir ilmi memberi kotribusi baik bagi pemahaman dan peningkatan keimanan terhadap al-Quran sebagai pedoman hidup manusia. Di sisi lain penafsiran dengan corak ilmi ini telah membawa mufassir terperangkap kepada penafsiran bi al-ra'yi (pendapat murni) yang dapat menjadikan firman Allah itu kehilangan nilai kewahyuannya.
Berkenaan dengan hal ini para mufassir kontemporer dapat memaklumi keberadaan tafsir ilmi. Mereka lebih moderat dalam menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan yang dikorelasikan dengan teks-teks al-Quran. Di antara mereka itu ialah:
1.    Muhammad Musthafa al-Maraghi (w. 1945 M). Salah seorang syekh al-Azhar, Ia berkomentar dalam pengantar buku al-Islâm wa al-Thibb al-Hadîts karya Abd al-'Aziz Ismail, pendapatnya: al-Quran bukanlah kitab suci yang mencakup segala ilmu pengetahuan secara terperinci dengan metode pengajarannya yang terkenal, akan tetapi sesungguhnya al-Quran itu meliputi kaidah dasar umum yang sangat urgen untuk diketahui oleh setiap manusia agar dapat mencapai kesempurnaan jiwa dan raga. Menurutnya al-Quran telah membuka pintu yang luas bagi ahlinya untuk menguasai berbagai ilmu pengetahuan agar dapat diuraikan kepada semua orang secara terperinci, sesuai dengan zaman sang mufassir itu hidup. Akan tetapi ia mengingatkan tidak dibolehkan bagi seorang mufassir menarik ayat-ayat al-Quran kemudian menggunakannya untuk menguraikan kebenaran ilmu pengetahuan, atau sebaliknya menarik ilmu pengetahuan untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran, akan tetapi jika terdapat kesesuaian antara ilmu pengetahuan yang sudah tetap dan pasti dengan zahir ayat-ayat al-Quran maka tidak mengapa menafsirkan al-Quran dengan bantuan ilmu pengetahuan ini.
2.    Ahmad Umar Abu Hajar penulis buku al-Tafsîr al-'Ilmiy fî al-Mîzân. Ia mengungkapkan alasannya setelah memperhatikan perbedaan pendapat para ulama terhadap tafsir ilmi, dan menurutnya mereka yang beranggapan bahwa al-Quran jauh dari pada tafsir ilmi telah melakukan suatu kebenaran jika tafsir yang dimaksud berlandaskan pada ilmu pengetahuan yang bersifat perkiraan dan tidak pasti atau ilmu itu hanya berlandaskan pendapat murni tanpa bukti otentik penelitian ilmiyah, akan tetapi jika berlandaskan ilmu yang sudah pasti kebenarannya maka tidak ada halangan untuk mengambil manfaat kebenaran ilmu ini guna menjelaskan al-Quran. Dia juga menambahkan bahwa al-Quran merupakan kalam Allah, sedangkan alam adalah bagian dari ciptaan-Nya, maka pasti ayat-ayat al-Quran tidak bertentangan dengan kebenaran ilmu pengetahuan.
3.    Ayatullah Makarem al-Syirâzî salah seorang mufassir Iran bermadzhab Syiah Imamiyah. Ia termasuk ulama yang moderat dalam menanggapi keberadaan tafsir ilmi ini. Dalam bukunya tafsir al-amtsâl ia menggunakan sebagian tafsir ilmi untuk mengungkapkan kemukjizatan al-Quran dari sisi keilmuannya. Ia beranggapan bahwa ilmu pengetahuan saat ini telah mengambil posisinya dalam menafsirkan al-Quran, dan yang dimaksud ilmu disini adalah ilmu yang sudah pasti dan tidak berubah dengan perubahan zaman. Ilmu yang selalu berubah menurutnya tidak dapat menjelaskan al-Quran yang sudah tetap. Adapun ilmu pengetahuan seperti ilmu biologi dan astronomi yang mengkaji alam dan pergerakan bumi menurutnya adalah jenis ilmu yang telah terbukti kebenarannya dan sudah tetap, jenis ilmu inilah yang dapat diterima untuk menguraikan al-Quran.
4.    Ayatullah Ja'far Subhani, salah seorang mufassir yang moderat dalam menanggapi keberadaan tafsir ilmi. Ia menetapkan syarat seorang mufassir itu harus memperhatikan teori-teori keilmuan guna membuka pemikiran luas manusia untuk mencapai pemahaman yang dinamis tehadap ayat-ayat alQuran. Menurutnya: ilmu-ilmu pengetahuan ini dicapai oleh karena kekuatan pikiran filsafat, keilmuan manusia dan terbukanya pemahaman mufassir sehingga memberikan kemampuan sempurna untuk mengambil manfaat dari ayat-ayat al-Quran. Akan tetapi tidak bermaksud untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran menggunakan ilmu filsafat Yunani atau Islam, atau menafsirkan ayat-ayat al-Quran menggunakan ilmu-ilmu modern yang belum pasti kebenarannya lalu mencocok-cocokkannya dengan al-Quran, tidak. Karena hal seperti ini dianggap sebagai jenis tafsir bi al-ra'yi (tafsir dengan pendapat murni) yang sudah jelas dilarang oleh agama dan tidak sejalan dengan akal.(Yuliarto, n.d.)
Pendapat para mufassir kontemporer moderat di atas menghasilkan beberapa kriteria untuk tafsir ilmi yang diakui keberadaannya. Setidaknya ada dua kriteria yang dapat dijadikan pedoman yaitu kriteria umum dan khusus.
Kriteria Umum yaitu yang harus dimiliki oleh setiap mufassir diantaranya: a) Bagi seorang mufassir harus menguasai segenap ilmu yang biasa digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran seperti: ilmu bahasa, ilmu kondisi turunnya ayat (asbab al-nuzûl), ilmu sirah nabi Muhammad dalam batasan yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Quran, ilmu nasikh wa mansukh al-ayat, mengetahuai hadis dan ilmu hadis serta menguasai kaidah dasar hukum (ushul) dan ilmu fiqh, Menguasai kaidah-kaidah ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pasti serta mengetahuai pendapat-pendapat para filosuf, menjauhi diri dari bertaklid kepada pendapat para mufassir yang menggunakan ra'yi (pendapat murni). b) Hendaklah bagi seorang mufassir memperhatikan tafsir al-Quran yang diakui. Seperti : menggunakan metode yang benar, tidak menghilangkan sunnah nabi dan menghindari dari pengaruh pemikiran yang sesat, dan hendaklah penafsiran tidak bertentangan dengan hukum akal atau ayat-ayat al-Quran yang lain dengan merujuk kepada sumber-sumber tafsir yang benar. c) Hendaklah seorang mufassir selalu membandingkan segala sesuatu yang dapat dijadikan pelajaran dengan dalil-dalil naqli dan aqli sebelum ia menafsirkan ayat-ayat.(Yuliarto, n.d.)
Kriteria Khusus yaitu yang berhubungan dengan tafsir dan metode yang digunakan. Kriteria itu adalah: a) Tafsir ilmi yang diakui adalah tafsir yang menggunakan ilmu-ilmu eksperimen atau ilmu-ilmu yang dapat dibuktikan melalui penelitian dan rasa sebagaimana uraian di atas. Jika penafsiran itu menggunakan teoriteori ilmiah yang sudah tetap dan kebenarannya telah diakui oleh para ilmuwan, maka teori-teori tersebut hendaknya tidak disandarkan kepada ayat-ayat al-Quran sebagai teori pasti yang tidak dapat berubah. b) Ayat-ayat al-Quran yang ditafsirkan dengan corak ilmi ini adalah ayat-ayat yang jelas mengisyaratkan kepada ilmu dengan catatan: 1.Ayat-ayat al-Quran tidak ditempatkan pada posisi teori ilmu yang bertentangan dengan teori yang benar atau sebaliknya ia tidak digunakan sebagai alat untuk menetapkan validitas teori ilmu; 2.Tafsir ilmi harus bersandarkan kepada logika dan linguistik Arab yang merupakan bahasa asli al-Quran; 3.Tafsir ilmi tidak bertentangan dengan masalah-masalah syariat agama Islam.(Yuliarto, n.d.)
C.  Para Ahli Tafsir Ilmi dan Kitabnya
Diantara Tokoh yang paling gigih mendukung tafsir ‘ilmi tersebut adalah Al-Ghazali (w. 1059-1111 M) yang secara panjang lebar dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulum Al-Din dan Jawahir Al-Qur’an mengemukakan alasan-alasan untuk membuktikan pendapatnya itu. Al-Ghazali mengatakan bahwa “ Segala macam ilmu pengetahuan, baik yang terdahulu (masih ada atau telah punah), maupun yang kemudian baik yang telah telah diketahui maupun belum, semua bersumber dari Al-Qur’an Al-Karim”.(Shihab 1992)
·      Fakhrudin Al-Razi dengan karyanya Tafsir al-Kabir / Mafatih Al-Ghayib
·      Thanthawi Al-Jauhari dengan karyanya Al-Jawahir fi Tafsir al-Quran al-Karim
·      Hanafi Ahmad : dengan karyanya Al-Tafsir al-‘Ilmi li al-Ayat al-Kauniyah fi al-Qur’an
·      Abdullah Syahatah dengan karyanya Tafsir al-Ayat al-Kauniyah
·      Muhammad Syauqi dengan karyanya Al-Fajri Al-Isyarat Al-‘Ilmiyah fi al-Quran al-Karim
·      Ahmad Bayquni dengan karyanya Al-Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Tokoh-tokoh pengarang kitab–kitab tafsir yang berusaha menafsirkan ayat-ayat kauniyah dalam al-Qur’an misalnya(Ibrahim Hassan 1989):
·      Al-Allamah Wahid al-Din Khan dengan karya kitab tafsirnya al-Islam Yatahadda
·      Muhammad Ahmad Al-Ghamrawy dengan karya kitab tafsirnya Al-Islam fi ‘Ashr al-‘ilm
·      Jamal al-Din Al-Fandy dengan karya kitab tafsirnya al-Ghida’ wa al-Dawa’
·      Ustadz ‘Abd al-Razzaq Nawfal dengan kitab tafsirnya Al-Qur’an wa al-‘ilm Hadits
·      Tengku Muhammad Hasbi As-Siddiqy dengan kitab tafsirnya Tafsir An-Nur
D.  Contoh Penafsiran dalam Tafsir Ilmi
1.    Penciptaan Alam Semesta
Asal mula alam semesta diuraikan al-Quran dalam beberapa ayat berikut:
a.    QS. al-An’am : 101
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.”
b.    QS. al-Ankabut : 44
خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ
“Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mukmin.”
Informasi yang diberikan al-Quran ini sepenuhnya sesuai dengan temuan sains masa kini. Harun Yahya sebagai ilmuwan kontemporer berpendapat bahwa kesimpulan yang dicapai astrofisika saat ini adalah bahwa seluruh alam semesta, bersamaan dengan dimensi dan waktu, muncul sebagai akibat dari ledakan besar yang terjadi dalam ketiadaan waktu. Peristiwa ini, yang dikenal sebagai “Big Bang”, membuktikan bahwa alam semesta telah diciptakan dari ketiadaan sebagai hasil ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern sependapat bahwa “Big Bang” adalah satu-satunya penjelasan masuk akal yang dapat dibuktikan untuk permulaan dan penciptaan alam semesta.
Sebelum Big Bang, materi itu tidak ada dari kondisi “ketiadaan” ketika materi energi bahkan waktu, tidak ada dan kondisi itu hanya dapat digambarkan secara metafisis materi, energi dan waktu diciptakan. Fakta yang ditemukan baru-baru ini oleh fisika modern, telah diterangkan oleh al-Quran kepada kita 1400 tahun lalu.(Yahya 2007)
2.    Meluasnya Alam Semesta
Di dalam al-Quran, ketika ilmu astronomi masih primitif, perluasan alam telah digambarkan pada QS. Az-Zariyat: 47
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ  
 Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa”
Para ahli tafsir menafsirkan berbeda-beda pada lafad “wa inna lamusi’un”. Ibnu Abbas menafsirkannya sebagai “laqadirun” artinya yang kuasa, ada juga yang menafsirkannya dengan “ladzu sa’ah” (yang mempunyai keluasan), maksudnya Allah tidak akan kesulitan untuk menciptakan langit atau yang lain yang diinginkannya, dan ada pula yang mengartikan sebagai “lamusi’un ar-rizqi ‘ala kholqina” artinya Allah adalah yang meluaskan rizki atas makhluknya.(Al-Qurthubi, n.d.)
Harun Yahya dalam bukunya menjelaskan kata langit. Menurut beliau, kata langit, seperti yang dinyatakan dalam ayat di atas, digunakan di berbagai tempat dalam al-Quran dengan arti ruang angkasa dan alam semesta. Di sini, kata itu digunakan lagi dengan arti tersebut. Dengan kata lain, dalam al-Quran diungkapkan bahwa alam semesta mengalami perluasan, dan ini tepat sama dengan kesimpulan yang dicapai sains saat ini.(Yahya 2007)
Pada awal abad ke-20, seorang fisikawan Rusia, Alexander Friedman dan ahli kosmologi Belgia George Lemaitre telah membuat pengiraan secara teoritis bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan berkembang.
Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti juga alam semesta tersebut terus-menerus berkembang. Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang.(Yahya 2007)
3.    Bentuk Bulat Planet Bumi
Tentang bentuk bumi, terjadi perdebatan antara para ilmuwan sampai pada awal abad ke-16. Pada waktu itu mayoritas pelajar menyatakan bahwa bentuk bumi itu datar, serta sedikit yang mengatakan bumi itu bulat. Sedangkan Allah telah menyinggung tentang bentuk bulat bumi dalam QS. Az-Zumar: 5 yang berbunyi:
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Az-Zumar: 5)
Dalam al-Quran, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai ”menutupkan” adalah lafad “Takwir”. Menurut Dr. Kamal, makna “Takwir” adalah berputar dan menyelubungi, dan yang dimaksud ayat di atas adalah bahwa malam dan siang memutari bumi dan menyelimutinya. Dan sesungguhnya konsep yang seperti ini tidak mungkin terjadi kecuali kalau bumi bulat.(Yahya 2007)
Ini berarti bahwa al-Quran yang telah diturunkan pada abad ke-7 telah mengisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat. Namun, perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar dan ada gunung-gunung tinggi pada sisinya yang berguna sebagi tiang langit, dan semua perhitungan dan penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini.(Yahya 2007) Sebaliknya, ayat-ayat al-Quran berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir.
Dari beberapa penemuan di atas maka jelaslah bahwa teori alam mengembang telah diterangkan dalam al-Quran pada saat tidak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan al-Quran adalah firman Allah Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.


BAB III
PENUTUP

Makna etimologi dari tafsir ‘ilmi adalah penjelasan atau perincian tentang ayat Al-Qur’an yang terkait dengan ilmu pengetahuan, khususnya ayat tentang alam. Secara terminologi, tafsir ilmi adalah suatu ijtihad atau usaha keras seorang mufassir dalam mengungkapkan hubungan ayat-ayat kauniyyah dalam al-Qur’an dengan penemuan-penemuan sains modern, yang bertujuan untuk memperlihatkan kemukjizatan al-Qur’an.
Para ulama’ berbeda pandangan terhadap tafsir ilmi, sehingga terbagi menjadi 3 kelompok: 1. Kelompok yang mendukung, di antaranya adalah mam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H), Imam Fakhruddin al-Râzi (w. 606 H), Jalaluddin al-Suyûtî (w. 911 H), dan Allamah al-Majlisi (w. 1111 H). 2. Kelompok yang tidak setuju, di antaranya adalah 1. Abu Ishaq al-Syâtibî (w. 790 H) dan Al-Syaikh Mahmûd Syaltût (w. 1964 M). 3. Kelompok mufassir kontemporer dengan sikap moderat, di antaranya adalah Muhammad Musthafa al-Maraghi (w. 1945 M), Ahmad Umar Abu Hajar, Ayatullah Makarem al-Syirâzî, dan Ayatullah Ja'far Subhani.
Juga dapat diketahui tokoh-tokoh penggiat tafsir ilmi ini dari pengarang kitab kitab tafsir yang bercorak tafsir ‘ilmi dintaranya: Fakhrudin Al-Razi (Tafsir al-Kabir atau Mafatih Al-Ghayib), Thanthawi Al-Jauhari (Al-Jawahir fi Tafsir al-Quran al-Karim), Hanafi Ahmad (Al-Tafsir al-‘Ilmi li al-Ayat al-Kauniyah fi al-Qur’an), Abdullah Syahatah (Tafsir al-Ayat al-Kauniyah, Muhammad Syauqi (Al-Fajri Al-Isyarat Al-‘Ilmiyah fi al-Quran al-Karim), dan Ahmad Bayquni (Al-Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).







DAFTAR PUSTAKA

Al-Qurthubi. n.d. “Al-Jami’ Li Ahkamil-Qur’an.” In Juz 17, 52. Beirut: Darul-Kutub Al-Misriyyah.
Ibrahim Hassan, Hassan. 1989. Sejarah Dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota kembang.
Ichwan, Mochammad Nor. 2004. Tafsir Ilmiy; Memahami Al-Qur’an MelaluiPendekatan Sains Modern. Yogyakarta: Menara Kudus Jogja.
Shihab, M. Quraish. 1992. Membumikan Al-Qur’an, Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: PT. Mizan Pustaka.
Sya’roni, Mokh. 2012. Metode Kontemporer Tafsir Al-Qur’an. Semarang: IAIN Walisongo.
Yahya, Harun. 2007. Al-Qur’an Dan Sains. Bandung:7777 Dzikra.
Yuliarto, Udi. n.d. “Al-Tafsir Al-Ilmi Antara Pengakuan Dan Penolakan.” Jurnal Khatulistiwa 1 (1): 34–43. https://jurnaliainpontianak.or.id/index.php/khatulistiwa/article/download/178/139.


Download
Makalah: DOC PDF
Referensi: jurnal