Interelasi Nilai Islam dan Jawa dalam Bidang Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG MASALAH
    Pendidikan di Indonesia mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan di Indonesia yang memiliki ciri khas tertentu, yaitu di mana santri harus patuh dan tunduk terhadap kyai. Pesantren adalah wujud kesinambungan budaya Hindu-Budha yang telah mengalami proses Islamisasi dengan damai. Karena pada masa sebelum Islam datang, di Jawa sudah ada lembaga semacam itu. Oleh karena itu pesantren adalah bentuk dari interelasi nilai Islam dan Jawa dalam bidang pendidikan.
    Pesantren, Walisongo, dan pendidikan adalah tiga unsur yang sangat erat dan tidak dapat terpisahkan. Pendidikan Islam yang dipelopori Walisongo merupakan perjuangan gigih, kuat, dan sabar yang diimplementasikan dengan cara sederhana yaitu menunjukkan jalan alternatif baru yang tidak mengusik tradisi dan kebiasaan lokal serta mudah ditangkap oleh masyarakat Jawa. Walisongo mendirikan pesantren sebagai media dakwah dalam menyebarkan Islam dan penyambung lidah dari Nabi Muhammad SAW.

B. RUMUSAN MASALAH
    Dalam makalah ini setidak-tidaknya dapat menjawab pertanyaan berikut ini.
1. Apa definisi pendidikan?
2. Bagaimana hubungan Islam dan Budaya Jawa?
3. Bagaimana pesantren dapat dikatakan hasil interelasi nilai Islam dan Jawa dalam bidang pendidikan?



BAB II
PEMBAHASAN



A. PENGERTIAN PENDIDIKAN
    Dalam UUD No. 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Ketentuan Umum pasal I disebutkan bahwa: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran secara aktif dalam pengembangan potensi yang dimiliki berupa kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Sementara itu, Ahmadi dan Uhbiyati (1991:9) berpendapat bahwa pendidikan adalah usaha sadar orang dewasa dan disengaja serta bertanggung jawab untuk mendewasakan anak yang belum dewasa dan berlangsung terus-menerus.[1]

B. HUBUNGAN ISLAM DAN BUDAYA JAWA
    Hubungan antara Islam dan budaya Jawa dapat dikatakan sebagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan; yang secara bersama-sama menentukan nilai mata uang tersebut. Pada satu sisi, Islam datang dan berkembang di Jawa dipengaruhi oleh kultur atau budaya Jawa. Sementara itu, pada sisi yang lain, budaya Jawa semakin diperkaya oleh khazanah Islam. Dengan demikian, perpaduan antara keduanya menampakkan atau melahirkan ciri yang khas sebagai budaya yang sinkretis, yaitu Islam Kejawen (Islam yang bercorak kejawaan). Pada titik inilah terjadi semacam “simbiolis mutualisme” antara Islam dan budaya Jawa. Keduanya (yang kemudian bergabung menjadi satu) dapat berkembang dan diterima oleh masyarakat Jawa tanpa menimbulkan friksi dan ketegangan. Padahal, antara keduanya sesungguhnya terdapat beberapa celah yang sangat memungkinkan untuk saling berkonfrontrasi.[2]

C. PESANTREN
    Islam dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia khususnya masyarakat Jawa tidak bisa lepas dari proses panjang islamisasi yang dilalui, di mana pesantren secara intensif terlibat di dalamnya. Bahkan pesantren menjadi salah satu media utama berpengaruh Islam dalam pembinaan moral bangsa. Sebagai instuisi pendidikan, pesantren adalah wujud kesinambungan budaya Hindu-Budha yang diislamkan secara damai. Lembaga “Guru Cula” juga ditemukan pada masa pra-islam di Jawa, saat Islam datang lembaga ini tidak dimusnahkan melainkan dilestarikan dengan modifikasi substansi nuansa Islami. Apabila ditelusuri sejarah pendidikan di Jawa, sebelum datangnya agama Islam telah ada lembaga pendidikan Jawa kuno yang praktik kependidikannya sama dengan pesantren. Lembaga pendidikan Jawa kuno itu bernama “Pawiyatan”, di lembaga tersebut tinggal ‘ki ajar’ dan ‘cantrik’. Ki ajar adalah orang yang mengajar, dan cantrik adalah orang yang diajar. Kedua kelompok ini tinggal di satu komplek yang di sinilah terjadi proses belajar mengajar.[3]
    Dengan menganalogikan pendidikan pawiyatan ini dengan pesantren, sebetulnya tidak terlalu sulit untuk menetapkan bahwa pesantren itu telah tumbuh sejak awal perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, sebab model pendidikan pesantren itu telah ada sebelum Islam masuk yaitu pawiyatan. Dengan masuknya Islam maka sekaligus diperlukan sarana pendidikan dan tentu saja model pawiyatan ini dijadikan acuan dengan mengubah sistem yang ada menjadi sistem pendidikan Islam.[4]
    Secara historis, pesantren dinilai tidak hanya mengemban misi dan mengandung nuansa keislaman. Tetapi juga menjaga nuansa keaslian Indonesia, karena lembaga sejenis telah berdiri sejak masa Hindu-Budha, sedangkan pesantren tinggal meneruskan dan mengislamkan saja. Terdapat argumen yang dikemukakan sebagian ahli sejarah pendidikan tentang keaslian dan asal usul pesantren, yakni sistem pendidikan pesantren mirip dengan tradisi Hindu (India), mengingat seluruh pendidikannya bersifat agama yaitu guru tidak mendapat gaji; penghormatan yang besar terhadap guru (kyai); dan letak pendirian pesantren yang jauh diluar kota. Namun demikian, dilihat dari nuansa keislaman yang kental dengan ajaran statistik dan pola pengajarannya yang dimulai dengan pelajaran bahasa Arab, ada benarnya bila pesantren dianggap sebagai kesinambungan dari pendidikan sufi di Timur Tengah. Secara tidak langsung, hal ini diperkuat oleh pendapat sebagian besar ahli yang mengakui peran besar para sufi dalam proses islamisasi di kepulauan Nusantara. Menurut pendapat yang lain, mengatakan bahwa historis pesantren adalah hasil rekayasa dan pengembangan yang dilakukan terhadap umat Islam terhadap sistem pendidikan agama Jawa. Kenyataan ini antara lain dapat dilihat dari pola kepemimpinan pesantren yang bersifat kharismatik yaitu santri menerima kepemimpinan kyai bahkan terkadang cenderung tanpa ‘reserve’ karena kepercayaan mereka pada konsep berkah yang didasarkan pada doktrin kaum sufi. Dengan model kepemimpinan semacam ini, kepemimpinan pesantren dinilai memiliki akar kesamaan dengan guru-murid model Hindu-Budha.[5]



BAB III
KESIMPULAN



    Pendidikan pada hakikatnya suatu kegiatan yang secara sadar dan sengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus-menerus. Secara singkatnya, pendidikan dapat diartikan usaha sadar, terencana, sistematis, berlangsung terus-menerus, dan menuju kedewasaan
    Hubungan antara Islam dan budaya Jawa bagaikan “simbiolis mutualisme”. Keduanya (yang kemudian bergabung menjadi satu) dapat berkembang dan diterima oleh masyarakat Jawa tanpa menimbulkan friksi dan ketegangan. Padahal, antara keduanya sesungguhnya terdapat beberapa celah yang sangat memungkinkan untuk saling berkonfrontrasi.
    Pesantren dapat dikatakan telah tumbuh sejak awal perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, sebab model pendidikan pesantren itu telah ada sebelum Islam masuk yaitu pawiyatan, dengan menganalogikan kepadanya. Dengan masuknya Islam, maka pesantren sekaligus diperlukan sarana pendidikan dan tentu saja model pawiyatan ini dijadikan acuan dengan mengubah sistem yang ada menjadi sistem pendidikan Islam.



DAFTAR PUSTAKA


Dhanu Priyo Prabowo, Pardi dan Imam Budi Utomo. 2003. Pengaruh Islam dalam Karya-Karya R.Ng. Ranggawarsita. Yogyakarta: Penerbit Narasi
Wicaksono, Andri. 2014. Pengkajian Prosa Fiksi. Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca
http://mynameishasna91.blogspot.co.id/2013/04/interelasi-nilai-jawa-dan-islam-dalam.html diakses pada 23 Mei 2017 pukul 11.53 WIB.




[1] Andri Wicaksono, Pengkajian Prosa Fiksi (Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca, 2014), hlm. 259.
[2] Dhanu Priyo Prabowo, Pardi dan Imam Budi Utomo, Pengaruh Islam dalam Karya-Karya R.Ng. Ranggawarsita (Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2003), hlm. 9.
[3] http://mynameishasna91.blogspot.co.id/2013/04/interelasi-nilai-jawa-dan-islam-dalam.html diakses pada 23 Mei 2017 pukul 11.53 WIB.
[4] http://mynameishasna91.blogspot.co.id/2013/04/interelasi-nilai-jawa-dan-islam-dalam.html diakses pada 23 Mei 2017 pukul 11.53 WIB.
[5] http://mynameishasna91.blogspot.co.id/2013/04/interelasi-nilai-jawa-dan-islam-dalam.html diakses pada 23 Mei 2017 pukul 11.53 WIB.

You may like these posts