Tips Penting Mencegah PC Terinfeksi Virus Versi RobotBambu

       Virus komputer, seperti yang telah kita dengar akhir-akhir ini, telah menunjukkan perkembangan dalam kemampuannya. Sebagai contoh virus Ransomware WannaCry yang pernah menjadi perbincangan banyak orang. Kemampuan Ransoware WannaCry yang daat mengunci file serta meminta tebusan 100-300 USD merupakan ancaman yang serius bagi pengguna PC. Tercatat, virus Ransomware WannaCry ini banyak menginfeksi komputer-komputer rumah sakit yang ada di belahan dunia.
        Dari banyak kasus yang terjadi, penggua PC sering dibuat kesal oleh virus yang aktivitasnya menginstal otomatis aplikasi dan menampilkan iklan-iklan atau notifikasi untuk mendownload aplikasi serta ada juga yang mengganti Homepage dari browser kita. Laptop saya pernah terkena virus jenis ini, lalu saya mencoba untuk menghilangkannya menggunakan antivirus terkenal seperti AVG, Avira, dan Avast. Namun, setelah saya mencobanya, tetap saja virus tersebut masih ada dan melakukan aktivitasnya itu. Akhirnya, saya melakukan instal ulang pada laptop saya itu. Ancaman virus ini memang tidak terlalu serius, namun lama-kelamaan kita dibuat repot olehnya. Lebih lagi, langkah akhir untuk menuntaskan virus ini  adalah dengan melakukan insta ulang OS (Operating System), yang artinya kita butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikan komputer kita seperti semula karena setidaknya harus menginstal aplikasi dan merapikan file-file yang ada. Lalu apa cara yang perlu kita lakukan untuk mencegah infeksi virus tersebut?
       Kebanyakan virus jenis ini menyebar melalui aplikasi, terutama aplikasi grtisan. Saat kita menginstal aplikasi gratisan, sering tanpa ita sadari, kita juga memasukkan program lain ke PC kita. Maka dari itu, kita harus teliti dalam menginstal apliksi, terutama yang gratisan atau hasil modif dari para hacker. Selain itu, ada beberapa website yang menyediakan aplikasi yang sedang kita cari-cari, namun ternyata itu adalah virus. File yang tersebut biasanya dapat kita ketahui melalui ukurannya. Kasus yang kedua ini dapat kita hindari dengan mendownload pada website resmi atau kepercayaan kita. 
Contoh aplikasi terduga virus dinamai dengan aplikasi MP3Tag. MP3 Tag kira-kira berukuran 3 MB, namun file tersebut hanya berukuran setengah MB.
        Mengenai antivirus yang terinstal dalam PC, saya yang posisinya di Windows 10, hanya menginstal Smadav saja, maaf bukan maksud promosi 😂. Tidak ada cleaner atau antivirus lain selain Windows Defender (antivirus bawaan Windows). Memang sebelumnya saya menginstal antivirus Avira dan Advanced Systemcare untuk mencegah virus, namun setelah saya tahu penyebab umum PC terinfeksi virus, saya tidak lagi menginstal keduanya. Jadi, berdasarkan tulisan di atas ini, hal terpenting dari menceegah PC terinfeksi virus adalah ketelitian.


Seluk-beluk Mengenai Manna

       Beberapa mingu setelah Bangsa Israel di bawah pimpinan Nabi Musa as lolos dari Mesir, tibalah mereka di Gurun Sinai. Karena kelaparan, mereka mulai menggerutu, dan Allah pun mengirimkan dua macam makanan kepada mereka.  Petang hari, datanglah sekelompok burung puyuh yang menjadi santapan malam mereka. Pada pagi hari ketika lapisan kabut mulai menipis tampaklah hamparan putih di permukaan tanah berupa lapisan biji-biji kecil dan halus. Saat bangsa Israel melihatnya, mereka bertanya satu sama lain, “Benda apakah itu?” –dalam bahasa Yahudi kuno dlafalkan “man-hu”. Kata ini kemudian menjadi cikal bakal nama makanan baru itu, yaitu manna. Dalam Perjanjian Lama, manna dideskripsikan sebagai semacam biji Coliander (tanaman semak yang dimanfaatkan sebagai bumbu atau bahan obat; berwarna putih dan memiliki rasa mirip roti kering yang dilapisi madu).
       Kata manna dsebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an; semuanya berkaitan dengan kisah pengembaraan Bangsa Israel, yaitu pada al-Baqarah: 57, al-A’raf: 160, dan Thaha: 80. Kata manna dalam tiga ayat tersebut selalu diikuti oleh kata Salwa—sejenis burung putuh. Keduanya disebutkan sebagai berkah dari Allah kepada Bangsa Israel sepanjang 40 tahun pengembaraannya di Gurun Sinai. Istilah dari kedua makanan ini juga dapat ditemui dalam banyak pustaka kuno, yang menyebutnya sebagai pasangan diet yang baik. Manna dipercaya sebagai makanan surgawi yang Allah turunkan kepada Bangsa Israel saat itu. Beberapa ayat dalam Perjanjian Lama mendesripsikan makanan ini sebagai “makanan yang jatuh pada malam hari dalam bentuk butiran seperti salju berwarna putih yang menutupi permukaan tanah”. Rasanya diterangkan mirip “tepung yang diberi madu” atau “roti yang dilapisi minyak”.
        Dari pengamatan banyak pihak, mulai muncul dugaan mengenai hakikat makanan yang disebut manna. Dugaan pertama menyatakan bahwa manna adalah getah beku tumbuhan yang awalnya meleleh keluar dari lubang yang dibuat serangga penghisap cairan tumbuhan, atau berupa cairan manis yang keluar bersamaan dengan proses ekskresi alias kotoran serangga pemakan cairan atau getah tumbuhan tadi. Kekurangsesuaian deskripsi ini dengan apa yang ada dalam Perjanjian Lama—di sana ada kalimat yang berarti “tidak perlu dihaluskan dengan ditumbuk untuk dijadikan tepung sebagi bahan pembuat roti”—membuat sebagian pengamat mulai beralih ke dugaan berikutnya, yaitu lumut kerak. Getah beku tumbuhan maupun lumut kerak memang sah-sah saja dijadikan kandidat makna dari manna, mengingat keduanya masih bisa ditemukan hingga saat ini dan sama-sama dapat dimakan. Kendatipun, dua dugaan ini sama-sama menyisakan satu tanda tanya besar yang harus dijawab: Bila manna adalah getah beku tumbuhan atau lumut kerak, bagaimana mungkin manna dikonsumsi oleh Bani Israel yang jumlahnya sangat banyak dalam kurun waktu 40 tahun?
Di samping itu, bila manna berasal dari getah pohon yang mengering, atau produk dari serangga kecil penghisap cairan pohon, rasanya sulit membayangkan bagaimana manna datang seperti “salju yang turun”. 
Apabila diasumsikan bahwa jumlah pohon penghasil manna saat itu sangat banyak, maka masih disangsikan bagaimana pohon-pohon itu dapat menghasilkan manna dalam jumlah banyak setiap hari untuk dikonsumsi Bani Israel, terlebih lagi penelitian dewasa ini menemukan bahwa produksi getah oleh tumbuhan penghasilnya terjadi pada musim tertentu saja. Itu jelas tidak sesuai dengan apa yang tercatat dalam Perjanjian Lama, bahwa ketersediaan manna terjamin sepanjang tahun. Jika demikian, jelas ada campur tangan Allah dalam hal ini yang membuat hal tersebut dapat terjadi.
       Berikutnya, banyak peneliti mengidentifikasi manna yang disebutkan dalam Perjanjian Lama sebagai semacam cairan manis yang keluar bersama kotoran serangga dari kelompok kutu daun (aphid) yang menusuk dan menghisap cairan dari pohon tamarix dan beberapa jenis lainnya. Bahan ini dikenal dengan nama mann as-sama’. Gambar di bawah ini memperlihatkan aktivitas pada pohon Tamarix nilotica (Tamaricaceae).
Semut yang sedang memanen cairan manis yang dikeluarkan kutu daun.
(sumber: https://richsoil.com)
Pohon ini berupa semak, berdaun ramping, dan hidup menyebar dari kawasan Afrika Utara, Mediterania Timur, Sinai, hingga Jazirah Arab. Jenis tumbuhan lain penghasil mann as-sama’ di kawasan Sinai di antaranya Haloxylon salicornicum (hamadda atau rimth dalam Bahasa Badui), Anabasis setifera, beberapa jenis Acacia, dan Alhagi graecorum. Di Kurdistan dikenal satu lagi jenis pohon yang juga dapat menghasilkan manna, yaitu Quercus brantii. Di Irak, beberapa jenis tumbuhan Cupressus juga diketahui dapat menghasilkan manna.
Alhagi graecorum
sumber: floralegacy.s3.amazonaws.com
Anabsis satifera
sumber: floralegacy.s3.amazonaws.com
Tamarix nilotica
sumber: www.balandin.net
Haloxylon salicornicum
sumber: 
farm7.static.flickr.com
Quercus brantii
sumber: 
static.panoramio.com
        Seperti disebutkan sebelumnya, tampaknya manna dapat saja dihasilkan oleh organisme lain sepanjang memenuhi dua syarat, yaitu memiliki rasa manis dan tidak sebagai hasil tanaman (bukan buah atau "cadangan makanan" dari pohon tersebut). Dari pengamatan dewasa ini, diketahui ada berbagai sumber produksi manna. Sebagian besar manna adalah berupa getah tumbuhan yang keluar dari lubang bekas tusukan serangga yang menghisap cairan tumbuhan itu, atau berupa kotoran serangga penghisap berbentuk cairan manis. Ada juga manna yang berasal dari sumber lain, meski sangat jarang, seperti manna Trehala yang berupa kepompong kumbang Larinus maculates yang hidup di kawasan Turki; atau manna yang berasal dari lumut kerak (dikenal dari jenis Lecanora esculenta atau Spharotallia esculenta) yang kering dan tertiup angin. Butiran halus lumut kerak ini akan membentuk awan yang memiliki rasa manis. Pada musim-musim tertentu, awan itu dapat tertiup angin dari Yunani ke kawasan padang rumput di Asia Tengah. 
        Kemungkinan untuk memperoleh manna dari lumut kerak didukung oleh penelitian ahli kimia bahan alam dari Belgia, Dr. Errera (1893). Lumut kerak yang dimaksud adalah lumut kerak yang masuk kelompok unattached lichens, yang tidak menempel atau mudah lepas dari tempat menempelnya. Ia menduga bahwa lumut kerak ini dari jenis Aspicilia esculenta yang mudah terbawa badai sehingga seolah-olah diturunkan (anzalnaa: diturunkan) dari langit. Lumut kerak ini memiliki kandungan karbohidrat dan gizi yang tinggi serta antibiotik sehingga patut disebut sebagai makanan yang baik (thayyib). Zat antibiotik yang dihasilkan lumut kerak jenis ini di antaranya asam usnat.
        Manna dari getah pohon terbentuk dengan baik pada kawasan beriklim kering, seperti Timur Tengah. Di sini, getah akan keluar dari torehan serangga dalam bentuk cairan pada malam hari, dan mengering pada pagi hari. Hipotesis pertama mengemukakan bahwa manna muncul secara alami dari getah pohon Tamarix. Kemudian ditemukan juga secara alami  di banyak jenis tumbuhan lain. Ada beberapa proses domestikasi yang manusia lakukan guna memperoleh produk yang sama, misalnya di kawasan Sicilia dan Calibria. Penduduk setempat memperoleh manna dengan mengiris batang pohon Fraxinus omus dan menggunakannya sebagai bahan pembuat obat. Hingga saat ini  manna masih digunakan untuk berbagai maksud. Bahkan beberapa suku di kawasan Sinai masih menggantungkan diri terhadap pemanis alami ini. Manna juga umum digunakan sebagai bumbu makanan. Ada dua macam manna dari Iran yang terkenal, yaitu manna hedysarum dan manna shir-khest.
Manna shirt-khesht (kiri) dan manna hedysarum (kanan)
sumber: www.nytimes.com
Keduanya dikenal di Amerika sebagai campuran beberapa jenis makanan. Kedua manna ini mempunyai bentuk fisik yang mirip, yaitu getah pohon bercampur bermacam kotoran seperti ranting, potongan daun, dan banyak lagi. Manna digunakan untuk mendapat rasa manis dan asin yang seimbang, dengan tetap mempertahankan bentuk renyahnya. Manna hedysarum berasal dari pohon Hedysarum alhagi (dikenal juga dengan nama Alhagi maurorum) dengan rasa yang mirip perpaduan sirup maple, gula merah, madu, dan kacang. Manna shir-khesht yang berasal dari tumbuhan kelompok mawar, Cotoneaster nummilaria, memiliki tingkat kompleksitas lebih tinggi. Manna ini memiliki bentuk menyerupai potongan karang, dengan warna yang cenderung lebih putih ketimbang manna hedysarum. Manna shir-khesht juga memiliki rasa alkohol yang lebih kuat dan memberi efek dingin di mulut, serupa rasa mentol. Selain itu, ada sedikit rasa madu dan kulit jeruk di dalamnya.



Dikutip dari buku dengan 
Judul: Tumbuhan Dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sains
Susunan: Kemenag RI dan LIPI

E-Book Ke-NU-an


Berawal dari adanya kiriman mengenai e-book tentang NU melalui WA untuk menyebarkannya, saya yang memiliki website berniat untuk membagikannya lewat web saya. E-book di bawah ini diupload di Google Drive, dan di sana tertera pemilik atau juga peng-upload-nya yaitu "kajian dakwah KMNU Nasional". Siapapun boleh mendownloadnya. Anda juga dapat mengunjungi link ini untuk langsung menuju ke cloud storage. Sekian, semoga bermanfaat.

AD-ART NU download
Amaliah NU dan Dalilnya download
Bilik-Bilik Pesantren, Nur Kholis Majid download
Peraturan Organisasi NU download
Pedoman Berpolitik NU   download
Fajar Kebangunan Ulama' (Biografi K.H. Hasyim Asy'ari) download
Dari NU untuk Kebangkitan Bangsa karya H. Matori Abdul Jalil download
Fikrah Nahdliyah download
Nuansa Fiqih Sosial karya K.H. Sahal Mahfudz download
Nahdlatul Ulama, Traditional Islam and Modernity in Indonesia download
Abdurrahman Wahid on Reformulating the Theology of Islamic Democracy to Counter Secularism in Modern Era download
Gus Dur, NU dan Masyarakat Sipil download
Hadratus Syeikh K.H. M. Hasyim Asy'ari di Mata Santri download
Bahtsul Masa'il Waqi'iyah Kemiskinan dan Anggaran oleh PP. Aris Kaliwungu download
Jurnal LP Ma'arif NU 2 download
Jurnal LP Ma'arif NU download
K.H. Bisri Syansuri; Pecinta Fiqih sepanjang Hayat (biografi) download
K.H. Hasyim Asy'ari dan Nahdlatul Ulama: Perkembangan Awal dan Kontemporer download
Khotbah Iftitah Rais Akbar K.H. Hasyim Asy'ari Pembukaan Muktamar Nahdlatul Ulama' XVII Madiun 1947 download
Kyai Haji hasyim Asy'ari's Religious Thought and Political Activities (1871-1947) download
Mabadi Khaira Ummah download
Mabadi Khaira Ummah Munas Lampung download



Bersama Dalam Sendiri (Cerpen; Bagian 3)

Sumber: towet.files.wordpress.com


Wajah Cakra yang pertama dilihatnya, selepas ia keluar dari tempat berdiamnya selama sepuluh tahun itu. Cakra menyambutnya dengan sebuah senyuman yang teramat manis.
“Selamat atas kebebasanmu dari hukuman atas perbuatan yang aku percaya kamu tak memulainya Dee.”
“Iya kak, makasih. Hari itu dunia seakan sangat membenciku, namun akhirnya aku sadar di situlah aku merasakan bahwa tiada kesabaran yang diperoleh tanpa suatu guncangan.” jawab Dee begitu mantap.
“Sungguh, kau gadis yang kuat Dee. Terpaan demi terpaan mampu kau hadapi, bahkan di saat kau sendirian.” ucap Cakra dalam hatinya.
“Sekarang kamu tinggal di rumahku dulu aja ya, barang-barangmu ada di sana.”
“Oh oke makasih kak, aku juga ga tau harus ke mana.” ucap Dee tak berdaya.
“Lho! Kamu kok ngomong gitu? Kamu masih punya keluarga Dee di rumah, iya kan?”
“Mereka… mereka sudah mengusirku sejak pertama aku memberi kabar tentang musibah itu. Respon mereka justru negatif dan yakin akan kepercayaan mereka bahwa aku pembawa sial untuk mereka.”
“Dee maaf aku ga bermaksud seperti itu.”
“Iya kak, aku sekarang cuma punya simbok dan bapak yang pasti menerimaku dan percaya sepenuhnya padaku, serta  juga  Allah yang tak pernah pergi.”
Rumah Cakra agak jauh dari tempat mereka berdiri namun karena Cakra membawa motor jadi tidak perlu repot repot jalan kaki seperti yang biasa dilakukannya sehabis kerja. Gedung hijau yang pernah memberinya ruang untuk mengerti dunia perkuliahan kini hanya tinggal kenangan. Gedung hijau itu terlewati begitu saja dalam perjalanan menuju rumah Cakra, memang hanya sekejap namun membawa sebuah kecewa yang terlalu panjang.
“Simbok, maaf  Dee gagal jadi sarjana”Batin Dee getir.
----҉----
Mentari terlihat trsenyum riang, hangatnya menelusup mesra ke kulit manis Dee. Seceria dan sehangat perasaan Dee karena hari ini Dee berencana pergi ke rumah simbok dan bapaknya yang lama tak ia sambangi. Ia tak sendirian, ia pergi kesana bersama Cakra. Dee berharap dari mereka berdualah ia dapat mendapatkan kebahagiaan yang pernah ia rasakan dulu. Jalan masuk pedesaan tempat bapak dan simboknya tinggal terjal dan bebatuan hingga membuat mobil yang ia naiki berjalan pelan. Suasana seperti inilah yang begitu dirindukan Dee, suasana sejuk perdesaan, hijaunya sawah yang membentang, pepohonan yang teduh seakan menahan matanya untuk tetap tinggal di rantingnya menikmati segar warnanya. Pemandangan sepanjang jalan yang sejuk berakhir ketika mobil Cakra berbelok menuju sebuah rumah yang terlihat sudah tua.
“Kamu yakin Dee ini rumahnya?”Cakra memastikan pandangannya.
“Sepertinya memang benar kak, aku masih ingat betul jalan kesini tapi……”perkataan Dee terpotong karena mendengar seseorang memanggilnya.
“Dee! Kamukah itu?”
“Iya saya Dee. Maaf, ibu siapa ya?”
“Saya tetangga sebelah Dee. Kamu pasti sudah lupa ya?”
“Iya maaf sudah lama sekali saya tidak ke sini, bu. Orang-orang sudah banyak berubah di sini. Bu, bapak sama simbok kemana ya? Kok rumahnya sepi dan banyak rumput liar gitu ya?”
“Mereka…… sudah pergi Dee sekitar 3 tahun yang lalu. Makanya rumput-rumput itu sudah tinggi.” tutur tetangganya sambil berurai air mata.
“Bagaimana bisa, bu? Mengapa tidak ada yang memberitahu Dee?”
Ucapan Dee terputus, hatinya tak kuat menerima semua ini. Orang yang ia punya telah pergi, mereka yang mengasihinya melebihi orang tuanya sendiri. Sebenarnya ia masih punya keluarga, namun mereka acuh akan keberadaan Dee karena kejadian yang menyebabkan dirinya berada di penjara. Keluarganya tak mau lagi tinggal bersamanya. Selama sepuluh tahun tak sedetikpun keluarganya menjenguknya ataupun meneleponnya untuk menanyakan kabarnya.
“Dee, kamu yang kuat. Mereka pasti sudah tenang di sana. Ayo kita pulang!  Tak baik menangis di pusara seperti ini.”
“Aku harus pulang ke mana kak? Aku tidak punya siapa-siapa lagi.”
Suara lembut Cakra membuat hatinya bergetar. Pria yang selalu ada untuknya bagaimanapun keadaannya. Meskipun begitu, Dee merasa tak punya hak untuk berkata Cakra adalah orang satu-satunya yang ia miliki. Cakra hanya sekedar teman di hidupnya, meskipun berada di dekatnya mampu menyingkirkan risau yang tercipta. Berada di dekatnya juga mampu membuat hatinya berdebar, entah perasaan macam apa yang ia rasakan.
“Kan aku sudah bilang tinggalah di rumahku dulu.”
Dee hanya mampu tersenyum sambil air mata masih mengalir. Tatapan matanya seakan berkata “Terimakasih, kak.”
Dee dengan sekuat hati membujuk langkahnya untuk kembali ke rumah Cakra. Langkahnya berat untuk pergi dari pusara bapak dan ibunya, namun Cakra selalu menguatkan hatinya untuk tetap tersenyum. Perjalanannya menuju rumah Cakra kembali terlewati dengan diam. Dee tak mampu berkata-kata walaupun hanya sekedar mengucap satu kata pun. Hatinya bercerita sendu dan tak mau membaginya dengan kata-kata. Matanya memandang kosong ke arah jendela. Cakra menatapnya berkali-kali seperti ingin memberitahu sesuatu, namun mata Dee tak pernah berpaling pada kaca jendelanya. Akhirnya Cakra mengurungkan niatnya untuk berkata, karena takut akan membuat Dee semakin terluka.
“Assalamu’alaikum... ma, aku pulang.”
Wanita berparas cantik sambil membetulkan letak kerudungnya buru-buru mencium tangan Cakra. Tatapannya kaget saat matanya bertemu dengan Dee.
“Ini Dee ya? Halo, saya istrinya Cakra. Cakra sering menceritakan kamu. Mari masuk hari sudah gelap, di luar dingin juga.”
Dee yang dimaksud hanya terdiam dan menatap Cakra seakan tak percaya,namun anggukan Cakra mengiyakan perkataan wanita tadi datang bagai sambaran petir. Lagi-lagi, hari ini begitu memilukan bagi Dee, otaknya tak mampu menerima begitu saja kenyataan hari ini. Dee limbung begitu saja, tak kuat ia menapakkan kakinya untuk tetap tegar berdiri setegar hatinya dulu. Kini ketegaran hati Dee perlahan-lahan mulai berkurang betapa tak bisa ia kehilangan seseorang yang sudah menguatkannya. Matanya terbuka perlahan, dilihatnya sekeliling ruangan, ruangan putih bertabur bebunga ungu di setiap sudut. Dee teringat sepertinya tadi ia pingsan di rumah depan. Ditengoknya hari hampir pagi, Dee segera menuliskan secarik pesan untuk Cakra, dan berniat pergi ke desa tempat bapak dan ibunya disemayamkan.
----҉----
“Assalamu’alaikum kak Cakra……
Apabila kak Cakra membaca surat ini, mungkin Dee sudah pergi jauh. Tolong biarkan Dee sendirian. Bukannya Dee membenci kak Cakra, namun Dee hanya tak sanggup menerima ini semua. Ini mengenai sebuah hati yang sudah terlanjur berpaut pada namamu. Ini tentang sebuah hati yang selalu bertumbuh bunga di setiap waktu ketika bersamamu. Bagaimanapun, Dee merasakannya saat di dekatmu istrimu lebih beruntung bisa merasakannya setiap detik. Terimakasih telah tulus selalu membantu dalam kesusahan Dee. Terimakasih juga telah menyemangati Dee saat Dee terluka. Maaf jika hatiku lancang, karena telah merasakannya. Tak apa biar Dee simpan semua ini sampai suatu hari nanti datang seseorang yang merasakan hal yang sama padaku ya seperti ketika aku merasakannya saat bersamamu.”
Cakra terduduk di sudut pintu, air matanya mengalir bermuara pada kenangan saat bersama Dee. Andai  orang tuanya tak melakukan perjodohan ini, tentu saat ini Dee lah yang akan merasakan mekarnya bebungaan di hatinya saat berada di dekat Cakra. Hatinya teriris mengingat hidupnya kini sendirian bahkan tanpa seseorang yang menghiburnya di saat sendu.
----҉----
Dee menaiki bus demi bus dengan uang pemberian Cakra yang terdapat di tasnya, matanya merah karena menangis sepanjang perjalanan. Sangat berat melepas seseorang yang diharapkan akan melengkapi kekosongannya.
“Ya Rabb, dalam keadaan seperti ini aku masih menguatkan tekadku bahwa masih ada Engkau di hidupku. Mohon bimbinglah hamba untuk mengarungi perjalanan ini tanpa seorang hamba juga yang Kau kirim untuk memancing senyumku. Bagiku cukup Engkau meridhoi hidupku dan senyum pasti dapat terlengkapi nanti di alam yang kekal di mana orang-orang yang ku sayang berada.” tekad Dee dalam hati, sekaligus menjadi penguat dalam hidup Dee.

Dee akan merawat pusara dan rumah bapak simboknya sambil bekerja sebisanya di daerah sekitar desa itu. Dee yakin bila ia dekat dengan Rabb-nya, hidup akan terasa indah dan hati akan lebih tabah meresapi tiap kesendirian yang tak pernah Dee percaya keberadaannya. Karena dalam hidupnya, Dee selalu beranggapan bahwa dalam sendiri yang sering disebut oleh orang-orang, Dee selalu merasa bersama-sama dengan mahluk Allah lainnya  yang tak mereka anggap kehadirannya.




Bersama Dalam Sendiri (Cerpen; Bagian 2)



Namanya Cakra,  mahasiswa semester lima, selisih 4 semester di atasnya  yang kebetulan kenal karena kerja yang sama di suatu toko. Dee harus bekerja keras untuk membiayai kuliahnya. Orang tuanya memang memberikan uang saku padanya namun seringkali dibanding-bandingkan dengan Dani, untuk itu ia harus berjuang juga. Kerja separuh waktu ia jalani di beberapa toko yang mau mempekerjakan dirinya hingga ia bertemu Cakra. Meski umurnya di atas Dee 2 tahun, namun Dee sudah terbiasa dengannya seperti kawan seumuran. Cakra juga yang sering menolong Dee saat sedang kesusahan, sering menghibur saat Dee sedih dan tak jarang Cakra menyemangati Dee saat Dee mulai loyo entah dalam hal kuliah ataupun menggeluti pekerjaannya. Cakra mampu membuat Dee nyaman ketika berada di sisinya, sehingga Dee menganggap Cakra sebagai kakaknya sendiri. Sosok yang telah lama pergi dari hidupnya. Cakra amat baik hati, sering menolongnya saat ia kesusahan. Apabila Dee kesusahan tentang kuliah, ia biasa menanyakannya pada Cakra.
 “Sejatinya sendiri itu tak pernah ada, hanya orang yang benar-benar kerdil. Bagaimana mungkin ia melupakan peran mahluk lain di sekelilingnya itu, seperti langit yang selalu menenangkan bila dipandang. Cobalah lebih bersyukur atas kehidupan ini. Ya... cobalah kau pun pasti akan merasakan kenyamanan ini. Kau pasti melewatkan rasa terindah yang aku rasakan saat aku bercerita pada langit yang selalu menawan itu.” kata yang Dee ketikkan pada keyboard laptop keasayangan hasil jerih payahnya bekerja setelah lulus SMA. Dalam benda persegi miliknya itu, Dee merangkai sejuta kisah melalui tangannya lalu Dee coba kirimkan ke beberapa majalah. Meskipun masih jauh dari kata baik, Dee berfikiran, “Apa salahnya mencoba?”.
“Wahai malam tempat bintang bertabur. Wahai bintang yang tak pernah jemu ku pandang ku ucapkan terimakasih akan ketenangan yang kau berikan ke padaku saat orang lain belum tentu mengerti ketenangan yang ingin aku peluk dalam-dalam agar aku bisa luapkan sepuasnya rasa rinduku, tentunya kepada orang yang tiada di sisiku saat ini. Entah ia sedang di tempat berbeda ataupun ia seseorang  yang telah pergi ke tempat antah berantah yang belum pernah ia ketahui warnanya.Hanya kepada langit entah siang ataupun malam aku ucapkan kata-kata rindu yang hanya kusenandungkan dalam hati terdalam.Meski diungkapkan lewat hati ia mampu menghapus sejuta pilu bahkan milyaran liter tetes air mata yang tercipta akan sebuah rindu.” Dee berhenti mengetikkan kata pada lapptopnya, matanya beralih memandang ke atas tempat beribu rindu ia gantungkan disana, di langit yang seakan tersenyum padanya.
“Malam ini, oh... bukan hanya malam ini, namun setiap malam aku selalu teringat akan simbok dan bapak yang berada di tempat berbeda dengan yang Dee pijaki saat ini. Tak tertinggal pula teruntuk seseorang yang pernah berperan sebagai kakak dalam hidupku ku kirimkan nada rindu berupa lantunan ayat suci Al-Qur’an surah yasin atau Al-Waqi’ah seusai senja menyapa. Meski dengan terbata dan tangis, Dee bahagia bisa melantunkannya untukmu. Semoga apa yang selama ini terlantun akan sampai pada ruang rebahmu dan akan jadi penerang di sana. Kata orang, di sana amat gelap, tiada yang mampu menerangi selain lantunan itu. Apapun itu aku harap ini dapat berguna untuk duniamu di sana. Tidurlah yang tenang setenang saat kau terlelap disampingku dulu.” gumaman Dee  dalam hati terhenti karena linangan air matanya semakin deras.
----҉----
Di tengah keramaian restoran malam itu, tiba-tiba terdengar seruan keras yang seakan menyihir aktivitas mereka untuk dihentikan. Seorang pelanggan terkenal restoran ternama di kota itu menunjuk seseorang dengan wajah penuh angkara. Gadis berkerudung hitam itu hanya mampu diam di tempat dengan wajah sedingin es, tangannya gemetar memegang nampan yang akan diberikan kepada pemesan makanan di meja nomor 21.
“Heii! Berhentilah kau memberikan makanan itu kepada pemesannya sebelum kejadian yang menimpa suamiku menimpa pemesan itu juga.” tuduh wanita itu sambil tak henti menunjuk marah ke arah si pramusaji.
“Ta.. tapi maaf, apa salah saya, bu?”
“Sudah berbuat kejahatan masih punya nyali juga kamu bertanya apa salah kamu?” jawab wanita itu dengan nada meninggi.
“Dee, apa yang kau lakukan?”
“Maaf pak, tapi saya benar-benar tidak mengerti apa yang membuat ibu ini marah-marah.”
“Bu, maaf apakah bisa bicara masalah ini di ruangan saya saja?”
Tanpa menjawab wanita yang marah itu menuju ruang pimpinan restoran itu dan tentu tak lupa Dee membuntut takut-takut di belakangnya, karena keributan ini dituduhkan kepada dirinya.
“Maaf bu, Dee ini adalah karyawan yang jujur, pekerja keras dan tekun. Dia karyawan kebanggaan saya mana mungkin Dee melakukan hal ini kepada Ibu.”
“Baik pak, saya juga sudah meneliti kasus ini satu jam yang lalu. Begini, suami saya baru saja memakan sebuah makanan dari restoran ini dan tiba-tiba saja suami saya terkulai lemas, tanpa pikir panjang saya bawa dia ke rumah sakit namun terlambat suami saya sudah tak bernyawa lagi. Kabar yang saya terima dari dokter yang menanganinya yaitu bahwa suami saya terkena sebuah racun mematikan, dan saya tak lupa siapa pramusaji itu.” sambil menatap tajam pada Dee.
“Maaf sekali lagi bu, tapi saya tak melakukan apapun, saya hanya mengantar pesanan dan tidak tahu menahu tentang apa isinya.”
“Saya tak akan menuduh sembarangan tanpa bukti tentunya. Saya sudah menuju ke kepolisian dan mengetes sidik jari peletak racun itu dan sidik jari itu adalah kepunyaan karyawan ini.”
Wajah Dee mengeras ingin melawan perkataan yang dilontarkan namun wajahnya berubah khawatir saat melihat dua orang polisi muncul di ambang pintu.”
“Saudari Dee, kami dari kepolisian ditugaskan menangkap anda karena kasus pembunuhan atas saudara Prada Hermawan suami dari ibu tersebut.”
Perkataan yang tak terlalu panjang dan terlalu susah untuk dimengerti bagi Dee, namun mampu  membuat  waktu selama setahun untuk membuat Dee menerima itu. Bahkan seumur hidupnya pun tak cukup untuk mengiyakan tuduhan itu, karena memang Dee sama sekali tak melakukannya.
----҉----
Dee terdiam meratapi kejadian di restoran tempatnya bekerja menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk membiayai kuliahnya hingga dua tahun ini, namun tak disangkanya dua tahun itu harus terhenti karena hal yang sama sekali tak ia lakukan. Tatapan Dee kosong, memandang tajam pintu jeruji besi tempat Dee bernaung sekarang. Dee harus menghabiskan lima tahun hidupnya di jeruji besi ini, hari itu pupus sudah harapan Dee untuk menjadi sarjana dan membuat kedua orang tuanya juga bapak simboknya tersenyum. Pesan singkat sudah dikirimkan  Dee kepada orang tuanya mengenai hal ini. Sudah tentu kabar ini sudah sampai di telinga bapak simboknya. Yang menyakitkan bagi Dee bukan tentang hidupnya di sini, namun karena respon keluarganya mengenai musibah yang salah sasaran ini. Kedua orang tuanya tak menghiraukan keadaan Dee. Dee tidak di tengoknya, dan tak diberikan dukungan batin,  bahkan tidak percaya pada  alasan yang diberikan Dee bahwa Dee memang tak melakukan apapun. Selain itu, pesan dari Dee dibalas dengan usiran dan perkataan bahwa orang tuanya sangat malu atas kelakuan Dee dan menyuruh Dee tak usah kembali ke rumah seusai bebas dari hukumannya. Dee tak bisa melakukan apapun untuk menghubungi bapak dan simboknya karena mereka tak memakai peralatan seperti itu.
“Apa bapak sama simbok belum tahu ya kalau aku disini? Mengapa mereka tak kunjung ke sini?” tanya Dee hampir tiap hari pada dirinya sendiri.
Malam masih sama dinginnya di sini dan di kosnya. Teringat kosnya entah sudah jadi apa dan bagaimana sepeninggalnya Dee yang tak perlu pamitan kepada teman seperjuangannya itu. Suara alarm di ponselnya berbunyi nyaring tepat pukul tiga dini hari. Dee ingin sekali membasuh duka wajahnya dan memasrahkan segala kehidupannya kepada penggenggam hidupnya, namun Dee merasa tak enak jika harus membangunkan penjaga sel ini. Tanpa di duga penjaga sel terbangun dan melihat Dee terbangun ia mendekati Dee.
“Ada yang bisa dibantu?”
“Pak, bolehkah saya qiyamul lail?” pintanya memelas tanpa dibuat-buat wajahnya tampak sangat layu sejak saat itu. Senyum cerianya sudah tidak dikenalnya lagi.
“Silahkan! Mari saya bukakan pintu. Tapi jangan coba-coba kabur ya.”
“Tidak akan pak, terima kasih.”
Dee segera bermunajat hingga adzan subuh berkumandang. Air matanya membasahi pipinya bahkan tak bisa Dee hentikan. Dee mulai menyanggah perkataannya bahwa sendiri itu sebenarnya tiada, namun hati kecilnya kembali bersuara tak membenarkan pikirannya barusan.
“Dalam keadaan seperti ini pun tak layak kau menyebut dirimu sendiri, Tuhan tak pernah lari darimu dimanapun kau berada ia selalu menyayangimu.”
Dee tersadar bahwa perkataannya tak salah hanya dirinya saja yang telah lupa bahwa Tuhan selalu bersamanya, menyayanginya dan selalu memeluk kesedihannya. Karena hal ini semangat Dee mulai tumbuh lagi satu persatu. Pagi hari seakan cepat menyambut Dee, seakan ikut menyemangati gadis penuh luka itu. Saat bibirnya tak berhenti mengucap Asma Tuhan, pintu sel berderit dan tampak sang penjaga memanggilnya karena ada yang ingin bertemu. Hati Dee seakan ditumbuhi ratusan bunga warna warni dengan langkah bersemangat Dee mengikuti sang penjaga berharap bapak dan simboknya yang datang. Sudah hampir sepuluh tahun ini Dee berdiam disini dan berharap dapat melihat bapak dan simboknya.
“Kak Cakra…..?”
Dee sangat terkejut oleh seseorang yang ada di depannya. Dee hanya bisa terdiam menitikkan air mata. Dee tak tau mengapa ia menangis, padahal benteng hatinya untuk bersabar sudah sangat kuat sejak semalam.
“Dee… maafkan aku karena tak lekas menjengukmu dan baru menjengukmu setelah hukumanmu hampir habis. Hari itu, saat kau ditangkap, aku tak mengetahui hal itu. Aku berada di tanah rantau menjalani pekerjaan yang aku geluti. Setelah wisuda itu, aku memperoleh pekerjaan sebagai guru di sebuah daerah yang jauh dari sini. Di sana tempatnya terpencil tidak ada sinyal karena itu aku tak bisa mengabarimu dan  tahu kabarmu. Aku dipindahtugaskan di kota ini sekitar satu bulan yang lalu. Aku mencari teman-temanmu, mencari tahu tentangmu, dan akhirnya aku tahu ini menimpamu. Ibu kos sangat percaya padamu dan merawat barang-barangmu hingga kau kembali. Sekarang barang itu ada di rumahku.”

Dee hanya mampu menatap seseorang yang menggantikan  peran sosok kakak yang telah pergi dengan tatapan penuh rindu. Mulutnya seakan terbungkam. Air matanya tak dapat disembunyikan lagi mengalir sejak Cakra memanggil namanya. Detik berikutnya terlalui dengan diam dan hanya saling tatap antara Dee dan Cakra. Hingga sang penjaga mengingatkan waktunya Cakra untuk pulang.

Bersama Dalam Sendiri (Cerpen; Bagian 3)




Bersama Dalam Sendiri (Cerpen; Bagian 1)

Sumber: iStock


“Sendiri... hmmm... banyak orang menyebutkan bahwa keadaan di mana diri tiada berteman. Kebanyakan insan sangat membencinya, apalagi kalau sudah mengenai  urusan hati maka sendiri akan berubah nama menjadi enam kata yang menjadi momok para manusia, yaitu j-o-m-b-l-o.” Dee tersenyum kecut.
“Dee, kamu tidak jenuh hampir satu jam penuh di situ terus??”
Yang ditanya tidak segera menyahut, hanya sekedar menoleh dan tersenyum pada ibunya, hingga ia pergi, karena yang ditanya hanya tersenyum seperti biasanya, meski ia paham  sifat anaknya yang hanya akan tersenyum ketika ditanya seperti itu di tempat yang sama. Namun, hatinya selalu tergelitik ingin bertanya kenapa ia suka sekali berada di antara hamparan kegelapan bersama taburan bintang dan hangat senyum rembulan. Tetapi, rasa penasarannya akan terhenti begitu saja ketika melihat senyum anaknya yang sepertinya telah menjawab tak hanya satu pertanyaan mengenai putrinya namun bahkan ribuan. Ya… senyum itu sangat dalam, seakan menelusup dalam kantung matanya yang langsung membuat bibirnya terkatup rapat.
“Dee, tidak akan pernah jenuh bu, jahat nian diriku bu bila membencinya. Bagaimana mungkin Dee membenci sebuah keadaan yang setia menemani Dee sejak dulu bahkan jauh sebelum aku tau aku adalah sebagian hidupmu.”, Jawab Dee dalam hatinya sambil masih tersenyum.
Berada di bawah taburan bebintang membuat Dee merasa tenang melebihi tenangnya  berada dalam pelukan hangat ibunya. Ah... sejujurnya Dee tak terlalu ingat sehangat apa pelukan ibunya, setenang apa dan bagaimana ia tak paham mengenai itu. Bukan Dee tak tau diri atas pengorbanan seseorang yang melahirkannya itu, namun Dee tau bahwa ia adalah ibunya yang baru seumur jagung; belum lama ini. Dee hanya paham elusan seorang ibu yang ternyata ialah orang lain untuk dirinya. Yang Dee tau kekar bahu orang yang dipanggilnya bapak sebelum ia tahu siapa ibunya dan siapa ayahnya. Ialah orang  yang menggendongnya menuju dokter saat sakit merenggut tawa seorang Dee. Dee hanya  paham tangis khawatir simboknya  yang melihat tubuhnya dalam balutan pil-pil obat pengurang rasa sakitnya. Mereka yang pernah hinggap dalam ingatan Dee sebagai orangtua Dee.
Namun, waktu menjawab lain akan pertanyaan orang-orang yang seakan memaksa Dee menjawab dengan getir sekarang. Dee ingin nama bapak dan simboknya itulah yang menjadi orang tuanya namun sekeras apapun ia menolak tetap tak berguna, karena  dalam pencatatan sipil akta kelahirannya nama bapak dan simboknya memang bukan orang tuanya. Hal ini tidak lantas membuat Dee membenci kedua orang tuanya, Dee selalu menyayangi siapapun yang  berbuat baik padanya sekalipun itu orang baru dalam hidupnya. Dee tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang anak yakni berbakti kepada orang tua, meski Dee agak canggung ketika harus menerima kenyataan harus menjadi anak pertama dengan seorang adik yang bandelnya minta ampun. Adik laki-laki yang sering meneriaki tentang dirinya yang dulu tiada di keluarganya namun tiba-tiba ada disini, hal ini adalah satu alasan Dee sering berada di luar menikmati suasana malam yang syahdu. Memang hanya teriakan saja, tetapi setiap terlontar kata-kata dari adiknya mampu mengembalikan ingatan tentang bapak dan simboknya beserta rangkaian cerita di sana. Di balik karena perkataan adiknya yang menjadi alasan, ia sering berteman bintang adalah ia ingin menitipkan salam rindunya pada sosok kakak yang pernah ia punya yang kini ia entah berada di mana. Di sini, peran Dee sebagai anak pertama memang sangat berbanding terbaliik dengan saat bersama simbok. Di sana Dee merasakan bagaimana mempunyai seorang kakak yang sangat pengertian padanya, selalu menjadi bahu tempat Dee bersandar saat  Dee lunglai tak bertenaga. Kini, yang bisa Dee lakukan hanya memimpikannya bagaimanapun ia memelas tak akan ada lagi seorang kakak dalam hidupnya, yang ia punya hanya adik menjengkelkan itu. Adik yang mengolok-oloknya dengan keberadaannya. Dengan langkah malas, Dee meninggalkan balkon, meninggalkan kursi kesayangannya, melambai  perlahan pada bintang yang entah sudah berapa kali berganti  dan berubah posisi. Dee dengan segera membuang angan angan akan adiknya sebelum semuanya merambah ke seluruh sel otaknya dan kemudian membuatnya termenung tentang masa kecilnya.
----҉----
“Aku Dee simbok, ya Dee mu telah sampai di sini ,kota impianku sejak kecil dengan selamat tanpa luka, hanya sedikit tergores di hati tentang masa lalu. Namun, jangan khawatir, aku tetap berdiri kuat dan akan kusimpan rapat cerita-cerita haru hidupku”. Pandangannya tak berkedip sedikitpun dari bangunan megah berwarna hijau kampus impiannya. Syukur terlantun dalam hatinya menyadari telah sejauh ini ia melangkah dan dalam langkahnya selalu Tuhan sertakan sebuah gugusan senyum untuk dirinya yang begitu indah. Dee duduk dengan menunduk di atas tumpukan karung padi; diam matanya terpejam takut-takut kalau ia membuka mata dan mulutnya, air matanya tak kan bisa dibendung lagi, ia tak ingin mereka tahu ia sedang menahan tangis, jadi cukup diam hingga waktu-waktu ini usai. Waktu berjalan sangat lamban, namun bukan berarti malam ini akan jadi selamanya dan tak akan berpenghujung.
“Jangan menangis nduk, kenapa engkau menangis?” Tiba-tiba suara parau itu keluar dari bibir tua simbok.
Dee hanya bisa menatap dalam wanita tua di depannya sambil terus menangis, terngiang di telinganya sesak suara simboknya barusan. Imaji suara simboknya terhenti ketika simboknya kembali berujar padanya.
“Kalau aku tiada nanti, ketika nyawa tiada berada dalam ruhku, kamu mau sama siapa nduk?”
“Dee mau ikut simbok”.
Jawaban Dee begitu singkat, jawaban seorang gadis 10 tahun yang masih lugu namun sudah banyak dicekoki pil pahit kehidupan. Jawaban yang mampu membuat simbok menangis juga dan memeluk Dee begitu erat. Pertengkaran antara simbok dan wanita yang berkata ialah orang yang melahirkan Dee beberapa jam yang lalu masih menyisakan sesak seorang simbok dan Dee yang dalam. Dee kecewa karena mengapa orang itu mengaku ibunya dan berbuat kasar padanya.
“Pokoknya aku tidak mau tahu, Dee harus pindah sekolah dan sekolah bersama Dani di sekolah yang sama supaya aku tidak kerepotan karena mengurusnya”.
“Tapi... Dee tidak mau dan ingin tetap di sini, ini sudah aku bicarakan sehari yang lalu dengannya biarlah dia di sini dahulu.” pinta simbok dengan memelas.
“Terserah, kau urus saja bocah sial ini dan jika Dee ingin di sini maka kau harus membiayai sekolahnya sendiri.”
“Baiklah, tak masalah bagiku, asal Dee disini.”
Wanita itu amat menyeramkan baginya dan jika benar ia ibunya, maka Dee tak akan mau untuk ikut ibunya itu. Padahal permulaannya hanya masalah mengenai Dee  yang minta dibelikan sepatu yang baru karena sepatunya sudah tak layak pakai. Sering kakinya terluka, terkena benda tajam saat sekolah. Karena simbok tak mempunyai uang, simbok meminta pada wanita itu. Dee tahu percakapan antara wanita itu dan simbok di samping sekolah kemarin.
“Nduk, sepatunya besok ya... simbok belikan kalau sudah ada uang.” kata simbok sambil membelai rambut Dee, kebiasaan yang sering dilakukannya untuk membuat Dee segera tidur.
“Iya, nanti Dee pakai sepatu itu saja, masih bisa dipakai kok.”
“Tapi nanti genduk diejek teman-teman lagi?”
“Ga kok, Dee ga apa-apa asal masih sekolah di sini sama simbok.” jawabnya dengan lugu setengah terlelap. Tak lama setelah itu, Dee tertidur dengan air mata menggenang di pipinya.
Simbok hafal betul, kejadian ini pasti terbawa sampai ke alam mimpinya dan membuat Dee menangis. Ditatapnya Dee penuh luka. Jabang bayi yang ia terima dari wanita yang memakinya maghrib tadi di bawah hujan deras sepuluh tahun silam dengan alasan wanita itu kerepotan mengurus dua anak kembarnya maka yang satu ia titipkan simbok. Selain itu, sejak lahirnya Dee seperti membawa sebuah kesialan seperti kembarannya Dani selalu sakit apabila Dee berada serumah dengannya. Sekarang Dee telah tumbuh di bawah kasih sayangnya, bagaimanapun Dee sudah seperti anaknya sendiri. Berat untuk melepaskan Dee apalagi mengingat ibunya yang selalu memarahi Dee saat ibunya menengok ke sini. Seperti selalu ada kesalahan yang Dee lakukan sehingga amarah dari ibunya, dikeluarkan.

“Ah! Kenapa aku selalu ingat hari itu.” tepis Dee akan pikiran yang terbesit tiap waktu itu.




Membuat Es Krim Hanya dengan Rp 15.000




Peralatan:
  1. Mixer
  2. Panci
  3. Baskom/mangkuk
  4. Pengaduk
  5. Gelas plastik.
Bahan:
  1. tepung meizena (dua sendok makan);
  2. gula pasir (4 sendok makan atau sesuai selera);
  3. air putih (4 gelas);
  4. susu kental manis (3 sachet);
  5. bubuk pewarna atau perasa (sesuai selera);
  6. ovalet (setengah sendok makan).

Cara Memasak:
  1. Masukkan gula pasir, tepung meizena, dan air ke dalam panci, kemudian aduk sebentar. 
  2. Panaskan di atas api sedang sambil diaduk. 
  3. Jika telah mendidih, angkat panci. 
  4. Masukkan susu kental manis kemudian aduk hingga merata. Pada saat ini, anda dapat menambahkan tepung meizena jika adonan dirasa kurang kental. 
  5. Jika adonan telah dingin, masukkan panci yang berisi adonan ke dalam kulkas. Tunggu hingga adonan agak memadat kira-kira semalam, tergantung suhu pada kulkas.
  6. Masukkan adonan ke dalam baskom dan masukkan ovalet, kemudian mixer hingga mengembang.
  7. Masukkan pewarna atau perasa ke dalam adonan, kemudian mixer kembali hingga adonan
    bercampur merata. 
  8. Tuangkan adonan ke dalam gelas plastik atau wadah lainnya, kemudian diamkan
    di dalam kulkas hingga memadat. 


Video:

 
  

 

Cara Hardreset Samsung U900 (Soul) Untuk Atasi Lupa Sandi



            Berawal dari adanya masalah pada Samsung U900 atau disebut dengan Samsung Soul yang terkunci password, saya sempat kebingungan mencari solusinya. Saya juga tidak pernah memegang Samsung Soul ini sebelumnya, bahkan tidak tahu ada ponsel keluaran Samsung dengan model slide seperti itu.. Namun setelah mencari-cari solusinya di internet, saya menemukan cara mengatasinya dari www.hard-reset.com yaitu dengan hardreset. Jadi, saya tidak perlu susah-susah melakukan flashing ulang. Langsung saja, untuk cara hardreset anda cukup menekan kode *2767*3855# ketika ponsel dalam keadaan hidup. Demikian, semoga membantu. 


Mengatasi Net Framework V 4.0.30319 Error


  1. Pergi ke menu start.
  2. Ketikkan "cmd".
  3. Pada  cmd (command prompt), klik kanan.
  4. Pilih Run as administrator.
  5. Ketikkan "net stop WuAuServ", lalu tekan enter.
  6. Jangan tutup dulu cmd, buka Local Disk (C:)  ->  Windows.
  7. Rename SoftwareDistribution menjadi SDold.
  8. Kembali ke cmd, lalu ketikkan "net start WuAuServ", Setelah itu, tekan enter.
  9. Install Net Framework 4.

 

 

Video: 

 

Bagi anda yang ingin mengunduh Net Framework 4 offline, silakan meuju post:

Net Framework 4.0.30319 Offline



Net Framework 4.0.30319 Offline




NET Framework 4 diperlukan untuk menjalankan dan mengembangkan aplikasi yang memerlukan NET Framework 4. NET Framework 4 bekerja berdampingan dengan versi Kerangka yang lebih lawas. Aplikasi yang didasarkan pada versi Framework sebelumnya akan terus berjalan pada versi yang ditargetkan secara default.

Sistem Operasi yang Didukung
Windows 7, Windows 7 Paket Layanan 1, Windows Server 2003 Paket Layanan 2, Windows Server 2008, Windows Server 2008 R2, Windows Server 2008 R2 SP1, Windows Vista Paket Layanan 1, Windows XP Paket Layanan 3
      • Windows XP SP3
      • Windows Server 2003 SP2
      • Windows Vista SP1 atau yang lebih baru
      • Windows Server 2008 (tidak didukung pada Server Core Role)
      • Windows 7
      • Windows Server 2008 R2 (tidak didukung pada Server Core Role)
      • Windows 7 SP1
      • Windows Server 2008 R2 SP1
    • Arsitektur yang Didukung:
      • X86
      • X64
      • Ia64 (beberapa fitur tidak didukung pada ia64 misalnya, WPF)
    • Persyaratan Hardware:
      • Recommended Minimum: Pentium 1 GHz atau lebih tinggi dengan RAM 512 MB atau lebih
      • Ruang disk minimum:
        • X86 - 850 MB
        • X64 - 2 GB


Download: GD   MF